Purwakarta – Madilognews.com– Di tengah bonus demografi yang sering disebut sebagai peluang pembangunan, data terbaru justru menunjukkan tantangan besar bagi pemuda di Kabupaten Purwakarta. Dari setiap 100 pemuda yang masuk dalam angkatan kerja, sekitar 18 orang masih menganggur.
Data tersebut tercatat dalam publikasi Statistik Pemuda Kabupaten Purwakarta 2022–2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Pada tahun 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pemuda di Purwakarta mencapai 18,36 persen, atau hampir satu dari lima pemuda yang aktif mencari kerja belum mendapatkan pekerjaan.
Baca juga: Buka Data: Purwakarta dalam Angka 2026, Industri Tumbuh Ketimpangan Menganga
Meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya—yakni 20,11 persen pada 2023 dan 20,40 persen pada 2022—angka tersebut masih menunjukkan bahwa pemuda merupakan kelompok yang paling rentan dalam pasar kerja.
Jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran secara umum di Kabupaten Purwakarta, kesenjangan tersebut terlihat cukup mencolok. Dalam publikasi Kabupaten Purwakarta Dalam Angka 2026, tingkat pengangguran terbuka secara keseluruhan berada pada kisaran sekitar tujuh hingga delapan persen.
Founder Mata Dialog sekaligus aktivis muda, Muhammad Azhar Al Asy’ari, S.H., menilai tingginya pengangguran pemuda menunjukkan adanya persoalan dalam proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja.
“Data ini memperlihatkan bahwa banyak pemuda yang sudah selesai sekolah atau kuliah, tetapi belum siap masuk ke pasar kerja. Sementara dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang sudah memiliki keterampilan tertentu,” kata Azhar.
Menurutnya, persoalan ini tidak hanya terkait ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga menyangkut kesenjangan keterampilan antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha.
“Masalahnya bukan hanya pekerjaan yang kurang, tetapi juga keterampilan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri. Ini yang sering disebut sebagai skill mismatch,” ujarnya.
Azhar menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan yang dapat menjembatani pemuda dengan dunia kerja, seperti pelatihan vokasi, program magang industri, hingga dukungan terhadap kewirausahaan pemuda.
Baca juga: Buka Data: Empat Tahun, Lahan Sawah Purwakarta Hilang Setara 3.000 Lapangan Sepak Bola
“Pemuda adalah kelompok usia paling produktif. Kalau mereka tidak terserap dalam kegiatan ekonomi, maka potensi besar yang dimiliki daerah bisa tidak berkembang secara maksimal,” kata dia.
Ia juga menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci untuk menekan angka pengangguran pemuda di daerah.
“Program pelatihan harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Tanpa itu, angka pengangguran pemuda bisa tetap tinggi meskipun ekonomi daerah tumbuh,” pungkasnya.












