Lebaran selalu menghadirkan kehangatan. Bukan sekadar perayaan, tetapi momen untuk kembali—kembali ke rumah, ke keluarga, dan yang lebih penting, ke hati yang lebih tenang. Dalam pelukan orang-orang tersayang, kita merasakan ketulusan yang jarang ditemukan di hari-hari biasa.
Di setiap sudut kampung, anak-anak berlarian dengan wajah sumringah, tangan mereka penuh dengan angpau. Di ruang tamu, orang tua tersenyum haru melihat anak-anaknya berkumpul setelah sekian lama terpisah oleh kesibukan dunia. Di masjid, suara takbir bergema, mengingatkan bahwa kebersamaan adalah anugerah yang tak ternilai. Seorang sahabat lama tiba-tiba mengirim pesan, menghapus jarak yang selama ini tercipta karena kesalahpahaman. Seorang anak akhirnya memberanikan diri mencium tangan ayahnya yang terasa jauh. Lebaran mengajarkan kita tentang keberanian untuk memulai kembali.
Selama sebulan penuh, kita belajar banyak hal. Kita merasakan lapar agar lebih peduli pada mereka yang tak seberuntung kita. Kita menahan emosi agar bisa lebih memahami. Kita berbagi bukan karena kita punya lebih, tetapi karena kita sadar, kebahagiaan itu hadir ketika dinikmati bersama.
Baca juga: Mitos Mudik: Pulang Kampung atau Sekadar Kewajiban Sosial?
Tapi setelah hari raya berlalu, apakah kita tetap menjaga semua pelajaran ini? Ataukah kita kembali larut dalam kesibukan, lupa bahwa Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tetapi sebuah panggilan untuk menjadi lebih baik?
Di dunia yang semakin sibuk, banyak orang merasa sendiri dalam keramaian. Media sosial ramai dengan ucapan maaf dan doa, tetapi apakah kita benar-benar hadir untuk sesama? Lebaran bukan soal kemewahan, tetapi soal makna. Ini tentang bagaimana kita menata kembali hubungan, menyambung yang renggang, dan menguatkan yang sudah erat. Ini tentang melihat orang lain bukan sebagai lawan, tetapi sebagai saudara yang berjalan bersama.
Baca juga: Mudik Lebaran: Antara Tradisi, Tekanan Sosial, dan Kesiapan Infrastruktur
Mari kita jadikan Idul Fitri lebih dari sekadar perayaan tahunan. Mari kita hidupkan nilai-nilainya dalam keseharian kita—dalam cara kita berbicara, dalam cara kita mendengar, dan dalam cara kita berbagi. Mari kita buktikan bahwa Idul Fitri bukan hanya momen sesaat. Mari kita jadikan kasih sayang dan kebersamaan sebagai cahaya yang kita bawa sepanjang tahun.
Apakah kita hanya merayakan Idul Fitri sekali setahun? Ataukah kita bisa menjadikannya bagian dari kehidupan kita setiap hari?
Selamat Idul Fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga kita semua terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih berarti bagi sesama. (Red)












