Beberapa waktu lalu saya mendengar cerita dari seorang teman, mantan relawan wakil bupati dari Konoha. Saya tak akan menyebut namanya. Kita panggil saja: Adul. Penuh ambisi, kosong, dan “menggemaskan”.
Adul ini orang yang tiba-tiba muncul di panggung politik. Awalnya, dia maju sebagai caleg kabupaten lewat partai hijau. Tapi sejak awal, sudah terdengar keinginan besar untuk mencalonkan diri sebagai bupati. Keinginan itu ia sampaikan, namun buntu. Maka tak lama ia pindah ke partai biru kuning dan mencoba peruntungan di provinsi. Gagal. Tapi hasrat untuk naik tetap menyala.
Entah bagaimana, konflik dengan ketua partai mendorongnya lompat lagi. Kali ini ke partai biru mercy. Di sana ia mendapatkan tiket sebagai calon wakil bupati. Terpilih. Lalu tiba-tiba pindah lagi ke partai merah. Konon karena gagal merebut posisi penting di partai sebelumnya.
Di partai merah ia punya harapan karena kabarnya sang empu partai anak penguasa. Imajinasi pun bergerak dari persoalan dukungan finansial sampai proyek dari pusat. Maklum ada dompet yang menipis, dan ambisi yang harus dipelihara.
Kisah seperti ini mungkin sudah jadi rahasia umum. Tapi yang menarik justru datang dari para relawan yang pernah berjalan bersamanya. Beberapa memilih mundur dengan kecewa. Alasannya tentu macam-macam meski kesimpulannya nyaris pasti yaitu “diabaikan”.
Bagian pentingnya adalah saat dimintai tanggapan, satu kalimat dari Adul yang cukup mengagetkan:
“Saya sejak awal tidak minta didukung, kalian datang sendiri.”
Kalimat itu bisa terdengar logis. Tapi sekaligus dingin dan tak berjiwa.
Hal sama terjadi disejumlah kesempatan:
“Mereka (para relawan) kan sudah dibayar” , ujarnya
Ia seolah menanggalkan seluruh makna dari hubungan manusia dalam politik. Tak ada rasa terima kasih, tak ada pengakuan atas kerja kolektif. Semuanya diredam dalam logika individual: “Aku tidak minta.”, “Mereka sudah dibayar”
Padahal, dalam realitas politik yang sehat, dukungan tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang datang begitu saja. Ia tumbuh dari harapan. Dari keyakinan bahwa seseorang layak diperjuangkan. Ketika itu diabaikan, bukan hanya relawan yang kehilangan arah. Demokrasi juga kehilangan jiwanya.
Jika pun dalam prosesnya terjadi transaksi antara calon dengan relawan. Itu semata karena si calon sendiri yang membuka ruang transaksi terutama sebagai iming-iming agar masyarakat mau mendukung dan jadi relawan.
Tapi ya begitulah!
Politik, jika tidak disertai rasa tanggung jawab kepada mereka yang pernah percaya, perlahan akan menjadi kosong. Dan Adul, seperti banyak politisi lain yang merasa tak perlu mengingat siapa yang mendorong mereka naik, adalah cermin dari kekosongan itu.
Penulis : Agus Sanusi, M.Psi
Penulis adalah aktivis pada lembaga kajian publik analitika Purwakarta.












