Menimbang Tingkat Pengangguran Terbuka: Saatnya Purwakarta Menata Ulang Strategi Ketenagakerjaan

IMG 20250529 WA0022

Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Purwakarta mencapai 7,34%. Meski belum setinggi Karawang (8,04%), angka ini tetap mengkhawatirkan. Sebagai perbandingan, Kabupaten Indramayu yang berpenduduk hampir 1,9 juta justru berhasil menekan angka pengangguran hingga 6,25%.

Purwakarta sendiri memiliki jumlah penduduk sekitar 1,05 juta jiwa. Jika dilihat secara proporsional, tingkat pengangguran 7,34% ini menandakan persoalan struktural dalam ekosistem ketenagakerjaan kita. Pertumbuhan industri, investasi, dan sektor informal belum cukup mampu menyerap angkatan kerja secara optimal.

Baca juga: Tren IPM Purwakarta 2020–2024: Stabil Tapi Kurang Terobosan

Belajar dari Karawang dan Indramayu

Karawang, meski memiliki TPT lebih tinggi, merupakan kawasan industri besar yang menarik arus masuk pencari kerja dari luar daerah. Angka pengangguran tinggi di Karawang banyak dipicu oleh migrasi tenaga kerja, bukan semata ketidaksiapan industri.

Sementara itu, Indramayu menunjukkan pendekatan berbeda. Kabupaten ini berhasil menekan pengangguran melalui penguatan sektor padat karya seperti pertanian, perikanan, serta tumbuhnya UMKM dan wirausaha lokal. Diversifikasi ekonomi yang menyentuh akar masyarakat menjadi kunci ketahanannya.

Purwakarta Butuh Strategi Baru

Melihat fakta-fakta ini, sudah saatnya Purwakarta menata ulang strategi ketenagakerjaan. Kita tidak bisa lagi mengandalkan seremonial semata seperti bursa kerja tahunan. Beberapa langkah konkret yang perlu diprioritaskan antara lain:

Memperkuat pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri. Pelatihan harus selaras dengan keterampilan riil yang dibutuhkan pasar kerja, bukan sekadar sertifikat formal.

Mendorong tumbuhnya sektor ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Ini harus dibarengi dengan skema pembiayaan inklusif dan pendampingan yang serius dari pemerintah.

Membangun kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, pelaku industri, dan lembaga pendidikan harus duduk bersama menyelaraskan pasokan dan permintaan tenaga kerja.

Mengembangkan ekonomi desa. Supaya tidak terjadi urbanisasi tanpa arah yang justru memperbesar angka pengangguran di perkotaan.

Baca juga: 0,02 Persen yang Merusak: Tambang dan Kekuasaan di Purwakarta

Lebih dari Sekadar Angka

Pengangguran terbuka bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada ribuan anak muda yang kehilangan arah, keluarga yang menurun daya belinya, dan daerah yang kehilangan potensi produktif. Jika tidak dikelola dengan strategi yang progresif, pengangguran akan melahirkan masalah sosial yang lebih besar: kemiskinan, kriminalitas, hingga keretakan sosial.

Purwakarta tidak bisa terus-menerus terjebak dalam jebakan statistik tahunan. Kita harus membangun sistem ketenagakerjaan yang tangguh, adaptif, dan memberdayakan.

 

Penulis: Yudha Dawami Abdas

Pegiat Diskusi Kamisan Kabupaten Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *