Peribahasa ini—“anjing menggonggong, kafilah berlalu”—mungkin sudah terlalu sering kita dengar. Kadang diucapkan dengan mantap dalam pidato, kadang diselipkan sambil lalu dalam komentar di media sosial. Entah sejak kapan, tapi peribahasa ini mulai terasa… tajam. Kadang menyejukkan, kadang menyebalkan.
Awalnya saya menganggap ini pepatah bijak. Sebuah cara untuk tetap tenang di tengah kritik. Tapi makin ke sini, saya mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya “anjing” yang menggonggong itu? Dan siapa yang merasa dirinya pantas disebut “kafilah”?
Di dunia yang serba cepat ini, suara-suara bersahutan ke mana-mana. Semua orang bicara, semua orang merasa harus berkomentar. Saya pun begitu, kadang terpancing ikut-ikutan. Tapi tidak semua yang bersuara itu benar-benar punya arah. Banyak yang hanya… ya, menggonggong. Berisik. Kosong. Kritik yang tidak jelas ujungnya. Komentar yang hanya ingin menyerang, bukan memperbaiki.
Saya tahu, ini terdengar sinis. Tapi coba lihat linimasa media sosial kita. Lihat komentar di berita-berita. Berapa banyak dari kita yang benar-benar berniat memahami sebelum mengkritik? Dan berapa banyak yang hanya ingin merasa paling tahu?
Yang mengganggu, kadang mereka yang paling lantang justru yang paling malas berpikir. Semangatnya tinggi, tapi isinya datar. Kritiknya pedas, tapi solusinya nihil. Gonggongan ini—kalau boleh saya teruskan metaforanya—tidak selalu tanda bahaya. Kadang hanya refleks. Kadang hanya ingin didengar, tanpa tahu kenapa.
Jadi, ya, mungkin kita juga perlu sesekali mengkritik “anjing” dalam peribahasa itu. Bukan karena dia bersuara—tapi karena dia tak mau bergerak. Dia hanya berdiri di tempat, menggonggong ke arah siapa pun yang lewat, tapi tak pernah ikut jalan. Tak pernah ambil bagian.
Saya tidak bilang diam itu lebih baik. Tapi dalam dunia yang bising, kadang berpikir dulu sebelum bicara jauh lebih penting dari sekadar bersuara.
Dan soal “kafilah”? Saya pun tidak yakin siapa yang layak menyebut dirinya begitu. Karena kadang, mereka yang merasa jadi kafilah justru lupa mendengar. Mereka terlalu cepat menyimpulkan bahwa semua kritik hanyalah gonggongan.
Padahal tidak semua gonggongan itu sama.
Penulis: Agus Sanusi, M.Psi
Aktivis pada Lembaga Kajian Publik Analitika Purwakarta

