Madilognews.com – Balita disiksa ayah kandung di Purwakarta—peristiwa ini bukan sekadar berita kekerasan, tapi juga panggilan mendesak untuk menyelami kerentanan psikologis anak di usia dini. Tubuh kecil itu mungkin belum bisa berkata-kata, tapi luka-luka di kulit dan batinnya berteriak keras tentang dunia yang gagal memberikan rasa aman.
Di tengah amarah publik dan seruan hukuman maksimal bagi pelaku, ada pertanyaan yang lebih dalam yang perlu diajukan: bagaimana trauma semacam ini membentuk kehidupan psikologis anak dalam jangka panjang? Apa dampaknya ketika sosok pelindung justru menjadi sumber ancaman?
Ketika Rumah Gagal Menjadi Ruang Aman
Bagi anak usia 0–3 tahun, dunia pertama yang ia pahami adalah rumah dan wajah orang tuanya. John Bowlby dalam teorinya tentang kelekatan (attachment theory) menjelaskan pentingnya hubungan emosional awal antara anak dan pengasuh utama. Ketika relasi ini terputus oleh kekerasan, anak tidak hanya kehilangan rasa aman, tapi juga kehilangan kemampuan dasar untuk mempercayai lingkungan sekitarnya.
Penelitian terbaru dari Annals of Neurology (2025) mencatat bahwa balita yang mengalami kekerasan fisik menunjukkan perubahan struktur pada area otak seperti amigdala dan hippocampus, yang berperan dalam mengatur respons stres dan memori. Hal ini menyebabkan kondisi hipervigilansi, di mana anak menjadi terus-menerus waspada bahkan dalam situasi netral.
Trauma yang Menetap di Dalam Tubuh
Trauma pada masa kecil bukan hanya soal ingatan buruk. Ia “menempel” secara biologis. Psikiater Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa tubuh menyimpan trauma dalam sistem saraf dan memori implisit. Anak-anak yang mengalami kekerasan seperti kasus balita disiksa ayah kandung di Purwakarta bisa mengalami gangguan tidur, kesulitan regulasi emosi, bahkan penurunan fungsi imun dalam jangka panjang.
Sementara itu, meta-analisis dari Journal of Affective Disorders (2024) menemukan korelasi antara kekerasan masa kecil dan rendahnya empati, harga diri, serta kemampuan menjalin hubungan sosial yang sehat di masa remaja. Dengan kata lain, luka ini tidak sembuh seiring waktu—ia membutuhkan intervensi psikologis yang nyata.
Trauma Pengkhianatan: Luka dari Sosok yang Dicintai
Yang membuat peristiwa ini lebih menyayat adalah bahwa pelaku adalah ayah kandung. Dalam psikologi trauma, ini dikenal sebagai trauma pengkhianatan—trauma yang muncul ketika orang yang dipercayai dan dicintai justru menjadi pelaku kekerasan. Anak dalam situasi ini mengalami konflik emosional yang kompleks: antara cinta, ketakutan, dan rasa bersalah.
Penelitian intergenerasional dalam basis data PubMed (2024) mengindikasikan bahwa kekerasan yang dilakukan orang tua dapat menurunkan kualitas pengasuhan generasi berikutnya, kecuali ada intervensi yang memutus rantai itu. Tanpa penanganan, siklus kekerasan ini bisa menjadi pola antargenerasi.
Memulihkan Rasa Aman: Upaya yang Tidak Sekadar Medis
Penyembuhan trauma bukan hanya soal terapi individu. Ia membutuhkan sistem sosial yang peduli. Salah satu pendekatan yang terbukti ampuh adalah Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF‑CBT), yang membantu anak menstruktur kembali pemahaman atas pengalaman traumatis secara bertahap dan aman.
Namun terapi saja tidak cukup. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten, suportif, dan bebas kekerasan. Negara, masyarakat, serta media memiliki peran kolektif dalam menciptakan “ekosistem pemulihan”. Media seperti Madilognews bisa menjadi bagian penting dari proses itu dengan terus menyuarakan pentingnya perlindungan anak dan pemulihan psikologis yang utuh.
Epilog: Diam Anak Itu, Adalah Panggilan Kita Semua
Kasus balita disiksa ayah kandung di Purwakarta bukan hanya berita memilukan, melainkan cermin kerapuhan sistem perlindungan anak kita. Diam anak itu seharusnya menjadi pesan yang menggema keras: bahwa keadilan bukan hanya tentang menghukum pelaku, tapi memastikan korban tidak tumbuh dalam bayang-bayang luka.

