Madilognews.com – Di balik seragam loreng yang dikenakan oleh anggota keluarga militer, ada beban psikososial yang sering kali tak terlihat, terutama bagi anak-anak mereka. Meskipun terhormat menjadi bagian dari keluarga militer, anak-anak menghadapi tantangan emosional dan sosial yang jauh lebih kompleks daripada yang sering dipahami. Dari ketidakstabilan emosional hingga potensi gangguan kesehatan mental, dampak ini bisa berjangka panjang, baik di masa kanak-kanak maupun remaja.
Sebuah kajian yang dipublikasikan dalam Journal of Child and Family Studies (2024) berjudul “Children’s Social, Emotional, and Behavioral Outcomes in Military Families: A Rapid Review” menunjukkan bagaimana anak-anak dari keluarga militer cenderung menghadapi lebih banyak tantangan psikososial dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga sipil. Dalam kajian ini, ditemukan bahwa ketidakstabilan lingkungan, serta kehadiran orang tua yang terkadang terputus akibat tugas militer, turut memperburuk kondisi psikologis anak.
Tekanan yang Terpendam: Dari Kecemasan Hingga Depresi
Anak-anak dan remaja dari keluarga militer seringkali menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi. Mereka juga lebih rentan terhadap gangguan perilaku dan bahkan ideasi bunuh diri. Perpindahan tempat tinggal yang sering, kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang stabil, dan pengaruh disiplin ketat dalam keluarga militer memperburuk situasi ini.
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa prestasi akademik anak-anak dalam keluarga militer jarang menjadi fokus utama dalam studi-studi terkait. Padahal, pencapaian akademik bisa menjadi indikator kunci dalam memahami dampak psikososial yang dialami anak-anak ini. Pendidikan dan dukungan emosional yang tepat bisa membantu mereka bertahan dan berkembang lebih baik.
Dukungan Sosial sebagai Faktor Protektif
Namun, penelitian ini juga menyoroti pentingnya dukungan sosial sebagai faktor protektif. Anak-anak yang memiliki akses ke jaringan sosial yang suportif, baik itu keluarga, teman, atau komunitas, cenderung memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik. Dukungan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dalam pengertian dan kasih sayang—dua hal yang sangat diperlukan untuk mengatasi trauma psikososial.
Di sejumlah daerah di Indonesia, tempat banyak keluarga militer menetap, perhatian terhadap anak-anak prajurit sering kali terbatas. Anak-anak mereka sering dianggap “tangguh” hanya karena latar belakang keluarga militer, padahal mereka juga membutuhkan ruang untuk berbicara tentang kecemasan atau masalah yang mereka hadapi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melihat kembali bagaimana masyarakat dan negara memandang keluarga militer. Mereka bukan hanya simbol pengabdian, tetapi juga komunitas yang rentan dan perlu mendapatkan perhatian lebih dalam kebijakan sosial dan pendidikan.
Kesimpulan: Memberikan Ruang untuk Anak-anak Keluarga Militer
Menjadi bagian dari keluarga militer memang sebuah kehormatan, tetapi juga penuh tantangan. Anak-anak dalam keluarga militer adalah penjaga stabilitas emosional keluarga mereka, dan mereka berhak mendapatkan perhatian lebih dari sekadar label “anak tentara.” Dengan memberikan dukungan sosial yang lebih besar, kita dapat membantu mereka mengatasi tantangan psikososial yang mereka hadapi, menjadikan mereka pribadi yang lebih kuat dan lebih sehat secara mental.
Sumber:
Tait, R. et al. (2024). Children’s Social, Emotional, and Behavioral Outcomes in Military Families: A Rapid Review. Journal of Child and Family Studies. link.springer.com

