Pukul 04.49, seorang teman mengirimkan tautan tulisan Arini Joesoef berjudul “Dangkal Pengamatan, Gegabah Menyimpulkan, dan Jalan Lain Penghapusan Kerja-Kerja Aktivisme Perempuan.” Saya hanya tersenyum.
Pasalnya, semalam saya menerima tangkapan layar story Sheila Amelia, seorang penggiat isu perempuan. Dengan penuh semangat, saya disebut sebagai misoginis.
Menarik.
Kritik saya terhadap representasi gerakan perempuan berujung pada pelabelan misoginis dan tuduhan ingin menghapus kerja-kerja aktivisme perempuan.
Lalu saya membayangkan, seandainya saya seorang perempuan, bukan laki-laki. Apakah kritik yang sama akan memperoleh label yang sama? Ataukah ia hanya akan dianggap sebagai perbedaan pandangan di dalam gerakan?
Lebih menarik lagi.
Saya disebut dangkal. Pengamatan saya dianggap rabun. Cara berpikir saya dikaitkan dengan availability bias dan Dunning–Kruger effect.
Tiba-tiba saya mendapat diagnosis gratis.
Untung saja bukan asam urat.
Namun, sejujurnya saya menikmati semua itu. Sebab semakin banyak istilah yang dimunculkan, semakin saya merasa pembahasan justru bergeser dari substansi kritik yang saya ajukan.
Yang saya pertanyakan sejak awal bukan biografi narasumber, bukan siapa yang lebih lama menjadi aktivis, bukan pula siapa yang lebih berhak berbicara.
Yang saya pertanyakan adalah representasi gerakan perempuan di ruang publik.
Pertanyaannya sederhana.
Mengapa ketika sebuah lagu dianggap seksis dan misoginis, konsolidasi gerakan di ruang publik dapat berlangsung begitu cepat, sementara terhadap berbagai persoalan kebijakan publik yang secara langsung menentukan kualitas hidup perempuan, energi kolektif itu tidak tampak dengan intensitas yang sama?
Pertanyaan itu belum juga saya temukan jawabannya.
Sebaliknya, saya membaca story Sheila Amelia yang berbunyi:
“Bacot banget! Bilang aja misoginis sama aktivis perempuan. Udah tau verbal dan lirik yang seksis bisa berujung pembunuhan.”
“Ini pemikiran aneh. Sejak kapan kebijakan publik ramah juga sama perempuan. Kalau emang claiming diri sendiri pemerhati politik, harusnya tahu dong kenapa kebijakan publik enggak pernah ramah sama perempuan. Kenapa jadi nyalahin kalau perempuan abai sama kebijakan publik? Bro lupa enggak semua perempuan juga berkapasitas untuk bersuara karena akses dll.”
Saya sengaja mengutipnya apa adanya agar pembaca dapat menilai sendiri.
Saya membacanya beberapa kali.
Yang membuat saya heran bukan karena ia berbeda pendapat. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Yang membuat saya heran, sebagai seorang penggiat isu perempuan, ia justru membaca kritik terhadap representasi gerakan sebagai serangan terhadap perjuangan perempuan.
Padahal keduanya bukan hal yang sama.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa kebijakan publik sudah ramah terhadap perempuan.
Saya juga tidak pernah menyalahkan perempuan atas kebijakan publik yang tidak ramah terhadap mereka.
Justru karena saya memahami bahwa banyak kebijakan publik masih gagal menghadirkan keadilan bagi perempuan, saya bertanya mengapa representasi gerakan di ruang publik tampak jauh lebih cepat terkonsolidasi ketika merespons sebuah lagu dibanding ketika merespons berbagai kebijakan publik yang secara langsung memengaruhi kehidupan perempuan.
Itulah pertanyaan saya.
Bukan apakah kebijakan publik sudah ramah terhadap perempuan.
Bukan pula apakah perempuan memiliki hambatan struktural untuk bersuara.
Keduanya adalah persoalan penting. Namun bukan itu yang saya pertanyakan.
Yang saya pertanyakan adalah mengapa prioritas representasi gerakan di ruang publik tampak demikian berbeda.
Karena itu saya merasa pembahasan telah bergeser. Kritik terhadap representasi diterjemahkan sebagai kebencian terhadap perempuan. Pertanyaan tentang prioritas gerakan dibaca sebagai upaya menyalahkan perempuan.
Padahal saya tidak sedang mengkritik tujuan gerakan.
Saya sedang mengkritik bagaimana gerakan itu direpresentasikan di ruang publik.
Dalam logika, pola seperti ini dikenal sebagai red herring: perhatian dialihkan ke isu lain sehingga pertanyaan awal tidak pernah benar-benar dijawab.
Saya tidak menulis ini agar semua orang sepakat dengan kritik saya.
Kalau premis saya keliru, tunjukkan letak kekeliruannya.
Kalau data saya kurang, bantahlah dengan data.
Kalau kesimpulan saya lemah, runtuhkan dengan argumentasi.
Tetapi jika kritik lebih dahulu dijawab dengan pelabelan, diagnosis psikologis, atau asumsi yang tidak pernah saya ucapkan, maka yang hilang bukan sekadar jawaban atas sebuah pertanyaan.
Yang hilang adalah kesempatan untuk berdialog.
Feminisme, sebagaimana tradisi pemikiran lainnya, tidak pernah tumbuh karena kebal terhadap kritik. Ia tumbuh karena kesediaannya menguji dirinya sendiri.
Karena itu, saya tidak meminta semua orang menyetujui kritik saya.
Saya hanya meminta satu hal yang sederhana:
Bacalah kritik sebagaimana ia ditulis, bukan sebagaimana ia dibayangkan.
Fyi: Tulisan ini saya selesaikan pada 8 Juli 2026, sebelum polemik baru muncul. Dua hari kemudian, 10 Juli 2026, pedangdut asal Jawa Timur, Mala Agatha dan Icha Chellow dilaporkan ke polisi akibat mengubah lirik lagu menjadi vulgar.
Ketika lagu tersebut menuai kecaman berbagai tokoh segera angkat bicara. Tapi saya masih menunggu konsistensi yang sama terhadap berbagai karya yang juga diperdebatkan karena dianggap merendahkan perempuan. Jika prinsipnya adalah menolak seksisme dan misogini semestinya ukuran etik itu berlaku sama, siapa pun pembuat lagunya dan apa pun posisi sosialnya.
Penulis: Agra D. Raksa
Penulis dan Pengamat Sosial

