TAUHID : Kanda-isme HMI dan Kitab Suci Bernama Relasi

WhatsApp Image 2026 02 16 at 16.43.36

Kandaisme HMI, budaya patronase, dan krisis rasionalitas di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam

Dulu, Nurcholish Madjid mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya radikal: desakralisasi. Memilah mana Tuhan, mana benda. Mana iman, mana mitos. Mana yang layak disembah, mana yang hanya kebetulan sering diziarahi.

Kuburan bukan Tuhan.
Batu bukan Tuhan.
Tokoh bukan Tuhan.

Menyembah selain Allah, kata Cak Nur, bukan hanya salah secara teologis, tetapi juga memalukan secara manusiawi. Manusia merendahkan dirinya sendiri, turun derajat, bahkan lebih rendah dari benda yang ia agungkan.

Waktu itu, agama terasa seperti ruang berpikir.
Bukan museum kesucian palsu.

Ironisnya, generasi setelahnya rajin membaca Cak Nur, tanpa pernah sungguh-sungguh mempraktikkannya.

Dalam semangat yang sama, Fachri Ali membaca tradisi Himpunan Mahasiswa Islam sebagai gerakan rasional. Tidak ada manusia suci setelah Nabi. Semua boleh diuji. Semua boleh dikritik. Akal adalah pintu masuk iman.

Generasi 70–80an hidup dalam etos ini.
Yang dihormati bukan jabatan, tapi argumen.
Yang ditakuti bukan senior, tapi kesalahan berpikir.

Namun sejarah, seperti biasa, suka bercanda.

Hari ini, rasionalitas diganti rekomendasi.
Kritik diganti restu.
Argumen diganti “izin kanda”.

Yang suci memang bukan lagi kuburan.
Yang suci sekarang: senior.

Dulu kita diajari untuk tidak mengkultuskan manusia.
Sekarang kita rajin membangun altar,
berbentuk grup WhatsApp, undangan kopi, dan foto bersama.

Tak ada lagi senior pintar untuk beradu gagasan.
Yang ada: orang sakral.

Orang pintar masih bisa diuji.
Orang sakral tak boleh disentuh.

Kanda kini bukan sekadar kakak.
Ia telah berubah menjadi doktrin berjalan.

Jika kanda berkata A, logika harus menyesuaikan.
Jika kanda salah, realitas yang perlu direvisi.
Jika kanda tersinggung, akal sehat wajib minta maaf.

Beginilah tauhid versi mutakhir:
menyembah satu Tuhan,
dan beberapa patron.

Dalam ruang yang ditinggalkan oleh gagasan, masuklah pragmatisme.
Ketika ide mati, jaringan hidup.
Ketika integritas melemah, akses menjadi segalanya.

Figur-figur seperti Bahlil Lahadalia hadir bukan sebagai anomali, melainkan sebagai produk zaman. Mereka tidak membawa bangunan pemikiran. Mereka membawa jalur cepat.

Tidak menawarkan visi.
Hanya akses.

Tidak membangun kesadaran.
Hanya membangun kedekatan.

Dan anehnya, semua ini disebut “kemajuan”.

Sementara itu, para intelektual lama duduk di pinggir lapangan.
Menonton bangunan yang dulu mereka dirikan dihancurkan oleh penghuninya sendiri.

Mereka tidak kalah debat.
Mereka kalah pasar.

Di zaman ini, pikiran tidak laku.
Yang laku: posisi.

Kritikus dianggap merepotkan.
Pemikir dianggap tidak produktif.
Yang berguna hanyalah yang “punya jalur”.

Dulu, tauhid membebaskan manusia dari ketundukan.
Sekarang, tauhid cukup dibaca di spanduk.

Dalam praktik:
yang ditaati bukan Tuhan,
melainkan struktur.

yang ditakuti bukan dosa,
melainkan dikeluarkan dari lingkaran.

yang dicari bukan kebenaran,
melainkan parkir kekuasaan.

Maka lahirlah agama baru:
Kandaisme Patron.

Kitab sucinya: relasi.
Nabinya: senior berpengaruh.
Mukjizatnya: promosi jabatan.
Surga tertingginya: masuk lingkaran dalam.

Semua dijalankan atas nama iman, tradisi, dan perjuangan.

Padahal yang diperjuangkan hanyalah satu hal:
kenyamanan tanpa berpikir.

Mungkin Cak Nur tidak salah.
Mungkin Fachri Ali tidak keliru.

Yang berubah bukan ajarannya.
Yang berubah: keberanian kita.

Dulu, kita takut pada Tuhan.
Sekarang, kita lebih takut pada kanda.

Dulu, iman melahirkan kemerdekaan.
Sekarang, iman cukup melahirkan loyalitas.

Dan di situlah ironi terbesar zaman ini:

Kita mengaku telah meninggalkan penyembahan batu,
namun dengan tekun membangun patung-patung baru,
bernama relasi, patron, dan kekuasaan.

Itulah barangkali
bentuk syirik paling modern.

Penulis: Geizh Chalifah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *