Ada sesuatu yang jujur saja harus kita akui sedang rusak dalam cara sebagian masyarakat Indonesia memahami iman. Rusaknya bukan pada agama. Agama tidak pernah bermasalah. Yang bermasalah adalah cara manusia memahaminya, cara manusia mempraktikkannya, dan terutama cara manusia mematikan akalnya sendiri lalu menyebut itu sebagai kesalehan.
Coba lihat kenyataan yang ada di depan mata.
Di negeri yang katanya sangat religius ini, orang begitu mudah percaya bahwa puntung rokok seorang habib membawa barokah. Sebatang rokok yang sudah jadi abu dianggap punya nilai spiritual. Air yang dibacakan doa diperlakukan seolah olah seperti obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Orang sakit tidak sedikit yang lebih percaya datang ke tempat mistis daripada pergi ke dokter.
Dan anehnya, semua itu sering dibungkus dengan kata kata suci.
Begitu ada yang mempertanyakan, langsung diserang. Dibilang kurang iman. Dibilang tidak menghormati ulama. Dibilang melawan tradisi. Kritik langsung dianggap penghinaan.
Padahal pertanyaannya sangat sederhana.
Sejak kapan iman berarti berhenti berpikir?
Sejak kapan agama berarti menelan semua hal tanpa bertanya?
Kalau kita mau jujur membaca sejarah pemikiran Islam, kita akan menemukan sesuatu yang sangat berbeda dengan mentalitas seperti ini. Para ulama besar tidak pernah mengajarkan kebodohan yang dibungkus dengan simbol kesalehan.
Lihat saja Al-Ghazali. Ia mengkritik keras praktik keagamaan yang hanya menjadi ritual kosong tanpa kesadaran. Baginya iman tidak boleh sekadar ikut ikutan. Iman harus lahir dari pencarian, dari refleksi, dari pergulatan batin yang serius.
Lalu lihat juga Ibn Rushd. Ia bahkan menulis dengan sangat tegas bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang tidak boleh dimatikan. Menolak akal sama saja menolak salah satu karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Artinya sejak berabad abad lalu para pemikir sudah mengingatkan satu hal penting. Agama tanpa akal akan sangat mudah berubah menjadi dogma yang kaku.
Dan ketika dogma itu bercampur dengan kultus terhadap manusia, yang lahir bukan iman yang sehat. Yang lahir adalah masyarakat yang mudah percaya apa saja selama dibungkus simbol agama.
Inilah yang sering membuat sebagian orang gelisah.
Karena di banyak tempat kita melihat agama tidak lagi mengangkat kesadaran manusia. Agama malah dijadikan legitimasi untuk mempertahankan cara berpikir yang malas. Orang tidak mau membaca. Tidak mau belajar. Tidak mau memahami ilmu. Tetapi sangat mudah percaya pada cerita cerita mistis yang bahkan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Ada orang yang sangat yakin bahwa keberkahan bisa berpindah lewat benda. Ada yang percaya potongan rambut tokoh tertentu membawa keberuntungan. Ada yang percaya air bekas doa bisa menggantikan obat. Ada yang percaya jimat tertentu bisa menyelesaikan masalah hidup.
Kalau kita jujur, ini sangat mirip dengan pola berpikir takhayul yang justru dulu dilawan oleh agama.
Agama datang untuk membebaskan manusia dari ketakutan terhadap benda benda dan manusia yang dianggap punya kekuatan gaib. Agama datang untuk menegaskan bahwa hanya Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak.
Tapi ironisnya, dalam praktik sosial yang kita lihat sekarang, manusia sering kembali lagi ke pola lama. Bedanya hanya satu. Kali ini takhayulnya diberi label religius supaya terlihat suci.
Itulah yang membuat kritik menjadi penting.
Karena jika tidak pernah ada yang berani mempertanyakan, masyarakat akan terus berjalan dalam lingkaran yang sama. Orang merasa sedang meningkatkan iman, padahal sebenarnya hanya sedang mengganti objek kepercayaan.
Dari percaya pada benda menjadi percaya pada figur.
Dari percaya pada kekuatan gaib menjadi percaya pada manusia yang dikultuskan.
Padahal inti iman sangat jelas. Tuhan tidak pernah membutuhkan perantara yang dipuja secara berlebihan.
Masalahnya, banyak orang tidak nyaman mendengar kalimat seperti ini. Mereka lebih nyaman hidup dalam romantisme spiritual yang tidak pernah diuji oleh akal.
Lebih mudah percaya bahwa sebuah benda membawa berkah daripada membangun kehidupan yang rasional, disiplin, dan penuh tanggung jawab.
Lebih mudah percaya pada ritual mistis daripada menghadapi kenyataan bahwa hidup membutuhkan usaha, ilmu, dan kesadaran.
Padahal iman yang kuat justru lahir dari keberanian menghadapi kenyataan itu.
Iman yang matang membuat manusia semakin sadar akan kebesaran Tuhan, bukan semakin tergantung pada manusia lain.
Iman yang sehat membuat manusia semakin rendah hati, semakin rasional, dan semakin kritis terhadap dirinya sendiri.
Sebaliknya, iman yang dangkal justru melahirkan kultus, mitos, dan kepercayaan aneh yang tidak pernah selesai diproduksi.
Dan jika fenomena ini terus dibiarkan, maka yang akan kita lihat bukan kebangkitan spiritual masyarakat. Yang kita lihat justru kebangkitan irasionalitas yang dibungkus dengan simbol agama.
Agama akan terus dipakai sebagai tameng untuk mempertahankan kebiasaan berpikir yang malas.
Padahal kalau kita benar benar ingin menghormati agama, seharusnya kita berani melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit.
Berani berpikir.
Berani bertanya.
Berani membedakan mana iman yang lahir dari kesadaran, dan mana yang hanya lahir dari taklid buta.
Karena kalau manusia lebih percaya pada puntung rokok, air doa, jimat, atau dukun daripada pada Tuhan itu sendiri, maka yang perlu kita tanyakan bukan lagi seberapa religius masyarakat ini.
Yang perlu kita tanyakan adalah satu hal yang jauh lebih mendasar.
Apakah kita benar benar sedang beriman, atau sebenarnya hanya sedang mengganti bentuk takhayul lama dengan wajah yang baru ?
Penulis: Yudist Zulfan

