Lebaran di Tengah Ketimpangan: Saat Sebagian Merayakan, Jutaan Pekerja Informal Justru Berjuang Bertahan

Lebaran di Tengah Ketimpangan

Lebaran selalu digambarkan sebagai momen kemenangan, kebersamaan, dan kebahagiaan. Namun, bagi sebagian orang, perayaan ini lebih terasa sebagai pengingat ketimpangan yang masih nyata. Saat sebagian keluarga menikmati hidangan melimpah, baju baru, dan liburan ke luar kota, jutaan pekerja informal di Indonesia justru berjuang untuk sekadar pulang kampung atau bahkan bertahan di kota tanpa pemasukan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, dari total 144,64 juta penduduk yang bekerja, lebih dari separuhnya, atau sekitar 83,83 juta orang, berada di sektor informal. Bagi mereka, lebaran bukan hanya soal merayakan, tetapi juga tentang bertahan. Para buruh harian, pedagang kaki lima, dan pekerja serabutan sering kali harus memilih antara menghabiskan tabungan mereka untuk mudik atau tetap tinggal demi mencari penghasilan.

Menurut survei Lembaga Demografi UI, lebih dari sepertiga pekerja informal tidak mampu mudik akibat keterbatasan ekonomi. Padahal, banyak di antara mereka yang sangat merindukan keluarganya. Bagi mereka yang tetap tinggal di kota, bukan hanya rindu yang harus ditahan, tetapi juga beban ekonomi yang terus menghimpit.

Baca juga: Mitos Mudik: Pulang Kampung atau Sekadar Kewajiban Sosial?

Di sisi lain, fenomena urbanisasi membuat banyak desa kehilangan generasi mudanya. Tren migrasi dari desa ke kota terus meningkat setiap tahunnya, menyebabkan banyak orang tua yang merayakan lebaran tanpa anak-anak mereka. Mereka yang tetap tinggal di desa sering kali harus puas dengan panggilan video, menggantikan kehangatan pelukan langsung. Seorang petani di Indramayu menatap sawahnya yang sepi sambil berkata, “Kalau pulang, ongkosnya mahal. Jadi cukup telepon saja.” Sudah tiga tahun ia tak bertemu anaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta.

Lebaran juga menjadi cerminan jurang ketimpangan ekonomi. Saat pusat perbelanjaan di kota besar dipenuhi masyarakat kelas menengah yang berburu diskon, masih ada ribuan keluarga di pinggiran kota yang hanya bisa merayakan dengan apa yang ada. Hingga Maret 2024, diperkirakan masih ada sekitar 25 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bagi mereka, kebutuhan dasar seperti beras dan minyak goreng jauh lebih prioritas daripada baju baru atau hidangan mewah. Banyak yang harus puas hanya dengan doa dan video call, meski hati ingin pulang.

Baca juga: Lebaran: Pulang ke Hati, Pulang ke Sesama

Tak hanya ekonomi, faktor sosial juga menciptakan perbedaan pengalaman lebaran. Bagi para pekerja migran yang bekerja di luar negeri, perayaan ini kerap dihabiskan dalam kesunyian. Seorang pekerja rumah tangga di Hong Kong menatap layar ponselnya, menahan air mata saat melihat keluarganya berkumpul tanpa dirinya. “Saya hanya bisa melihat keluarga lewat video call, sambil menahan rindu,” ungkapnya. Jutaan pekerja migran Indonesia tidak bisa pulang saat lebaran karena berbagai kendala, mulai dari biaya hingga regulasi.

Lebaran memang hari kemenangan, tetapi bagi sebagian orang, ini juga pengingat tentang perjuangan yang masih panjang. Lebaran bukan hanya tentang kita dan keluarga kita, tetapi juga tentang mereka yang mungkin merayakannya dengan air mata. Mungkin inilah saatnya untuk berbagi, sekecil apa pun itu.(Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *