Setiap 1 Mei, jalanan kita kembali dipenuhi pawai, pekikan tuntutan, dan spanduk penuh semangat perlawanan. Hari Buruh, sebuah peringatan atas sejarah panjang perjuangan kelas pekerja, kembali dirayakan. Tak jarang jalanan macet, aktivitas ekonomi masyarakat terganggu karenanya. Namun dalam riuh itu, satu pertanyaan besar muncul: apakah gerakan buruh hari ini sungguh membaca kenyataan materialnya, atau justru tenggelam dalam romantisme masa lalu?
Pertama, materialisme mengajarkan kita untuk melihat realitas sebagaimana adanya. Faktanya dunia kerja hari ini telah berubah secara fundamental. Jika dulu buruh hanya berada di pabrik-pabrik besar. Mereka kini tersebar di ekosistem digital: dari pengemudi aplikasi, pekerja lepas daring, hingga operator layanan berbasis platform.
Hubungan kerja formal kian menipis, jaminan sosial melemah, dan perlindungan hukum menjadi semakin kabur. Mereka tidak punya kontrak kerja seperti buruh pabrik, tak punya jaminan hukum, tak punya jaminan sosial. Dan ekosistem digital adalah ekonomi masa depan.
Sayangnya, banyak tuntutan yang disuarakan di Hari Buruh masih berkutat pada narasi lama, seolah dunia kerja tetap berada di abad lalu. Ya menuntut upah layak itu penting, tentu saja. Tapi tanpa membaca perubahan struktur kerja hari ini, perjuangan itu hanya akan berjalan di tempat. Dalam situasi yang telah bergeser, metode perjuangan dan bentuk organisasi buruh pun harus mengalami transformasi.
Pengalaman saya sendiri menunjukkan kecenderungan ini. Banyak serikat buruh hari ini terjebak dalam siklus tuntutan upah tahunan dan bahkan tidak jarang terlibat dalam politik praktis. Alih-alih memperluas agenda perjuangan, mereka justru mempersempitnya dalam tarik-menarik kekuasaan sesaat. Akibatnya, persoalan-persoalan baru yang muncul dari fragmentasi dunia kerja modern nyaris tidak tersentuh.
Kedua, dialektika menuntut kita untuk melihat perubahan dan kontradiksi. Di satu sisi, teknologi membuka peluang baru. Di sisi lain, ia menciptakan ketidakpastian dan fragmentasi kerja yang tajam. Kontradiksi ini tidak cukup disikapi dengan semangat heroik semata; ia menuntut analisa materialis dan strategi adaptif.
Ekosistem digital adalah ekonomi masa depan. Ada ancaman nyata terhadap pabrik-pabrik konvensional yang menjadi simbol perjuangan buruh di masa lalu, tetapi di balik ancaman itu ada pula peluang besar yang harus dipahami dengan jelas. Peluang untuk buruh yang sebelumnya tidak terjangkau oleh dunia kerja formal, seperti pengemudi ojek online, pekerja lepas digital, dan pengusaha mikro. Namun, bagaimana peluang ini dibaca oleh serikat buruh? Itu perlu dijawab baik dengan narasi maupun aksi.
Ketiga, logika mendorong kita untuk mengkritisi gerakan buruh itu sendiri. Bukan semua organisasi buruh hari ini mewakili kepentingan riil kelas pekerja. Tidak sedikit yang terjebak dalam birokrasi, menjadi alat politik sesaat, atau sekadar mengulang ritual tahunan tanpa menyentuh problem pokok. Menggugat ini bukanlah bentuk pengkhianatan. Justru inilah bentuk kesetiaan sejati terhadap perjuangan buruh: berpikir rasional, kritis, dan bertindak berdasarkan realitas.
Hari Buruh tidak boleh terus-menerus menjadi pesta kenangan. Ia harus menjadi momentum untuk membaca ulang zaman, menyesuaikan langkah, dan membangun kekuatan berdasarkan perubahan material. Dalam semangat Madilog — Materialisme, Dialektika, dan Logika — perjuangan buruh masa depan harus meninggalkan romantisme dan membangun akal sehat kolektif.
Karena buruh bukan sekadar simbol. Buruh adalah tenaga produktif yang membentuk dunia. Dan dunia hanya akan berubah jika kesadaran buruh juga berubah.
Penulis: Agus Sanusi, M. Psi
Aktivis pada lembaga kajian publik Analitika Purwakarta

