Site icon Madilognews.com

Petani Purwakarta Semakin Menua: Di Ladang Sunyi Regenerasi yang Tak Kunjung Datang

Petani Purwakarta Semakin Menua

Petani Purwakarta Semakin Menua

Madilognews.com – Di pagi yang masih berkabut di lereng Gunung Parang, Kecamatan Tegalwaru, Pak Darsa (56) memanggul cangkul menuju sawah. Ia sudah lebih dari tiga dekade menggarap lahan yang sama, menanam padi dan sesekali palawija di musim kering. Anaknya, lulusan sekolah menengah kejuruan, kini bekerja di pabrik kawasan industri, enggan mengikuti jejak sang ayah menjadi petani. “Capek, hasilnya nggak pasti,” begitu katanya setiap kali ditanya.

Cerita Pak Darsa adalah potret dari banyak rumah tangga pertanian di Kabupaten Purwakarta saat ini. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, pada tahun 2023, sebagian besar rumah tangga usaha pertanian dipimpin oleh kepala keluarga berusia di atas 45 tahun. Kelompok usia 45–54 tahun menjadi yang terbanyak, mencapai 18.887 rumah tangga. Sementara kelompok usia 55–64 tahun tak jauh berbeda, dengan 17.844 rumah tangga.

Sebaliknya, kelompok usia yang seharusnya menjadi tulang punggung regenerasi — yakni 25–34 tahun — hanya tercatat sebanyak 4.004 rumah tangga, atau sekitar 6% dari total 64.384 rumah tangga usaha pertanian. Usia 15–24 tahun bahkan lebih memprihatinkan: hanya 263 rumah tangga.

Baca juga: Di Balik Statistik: Jurang Kemiskinan di Purwakarta Kian Dalam Pasca-Pandemi

Ladang yang Tak Dilirik Generasi Muda

Tak bisa dipungkiri, dunia pertanian saat ini kalah pamor dibanding sektor industri atau jasa. Anak-anak muda di Purwakarta tumbuh di tengah perubahan zaman yang cepat. Pertanian bukan lagi terlihat sebagai jalan hidup yang menjanjikan. Alih-alih mencangkul, mereka lebih memilih bekerja di pabrik, menjadi kurir daring, atau mencoba peruntungan sebagai konten kreator.

Di sisi lain, regenerasi dalam sektor ini seperti jalan sunyi yang terus diabaikan. Minimnya akses terhadap lahan, permodalan, teknologi, dan jaminan harga hasil panen membuat pertanian tak ramah bagi anak muda. Pemerintah memang memiliki program petani milenial, tapi realitas di lapangan belum seindah narasi.

Bukan Sekadar Statistik, Tapi Masa Depan

Data dari BPS bukan sekadar angka. Ia bicara tentang masa depan. Jika petani Purwakarta hari ini rata-rata berusia di atas 50 tahun, maka dalam satu atau dua dekade ke depan, akan semakin sedikit tangan-tangan terampil yang sanggup menanam padi, memanen cabai, atau merawat pohon kopi.

Krisis regenerasi ini bukan hanya persoalan lokal. Ia adalah gejala nasional yang mengancam ketahanan pangan dan keberlanjutan hidup desa. Di tengah semangat pembangunan dan industrialisasi, pertanian kerap tertinggal sebagai sektor yang dipandang “klasik” dan “tidak modern”.

Namun, tanpa pertanian, kita tahu: kota pun akan lapar.

Baca juga: Potret Pengangguran di Purwakarta: Ijazah Tak Menjamin Pekerjaan

Harapan Masih Ada

Di antara ketimpangan itu, beberapa komunitas muda mulai bergerak. Di Purwakarta, sejumlah inisiatif pertanian organik, urban farming, dan koperasi pemuda tumbuh perlahan. Tapi jalan mereka panjang dan sering sunyi. Mereka butuh dukungan, bukan hanya berupa program seremonial, tapi keberpihakan nyata — dari regulasi, infrastruktur, hingga pasar.

Pak Darsa menyeka keringatnya siang itu. “Kalau ada yang mau nerusin, saya senang. Tapi ya itu… anak saya bilang: bertani itu berat, nggak seindah YouTube,” katanya lirih sambil tertawa kecil.

Ladang itu tetap hijau. Tapi siapa yang akan mengurusnya 20 tahun lagi?

Exit mobile version