Berita  

Potret Pengangguran di Purwakarta: Ijazah Tak Menjamin Pekerjaan

Jebakan Lulusan Menengah dan Realitas Sektor Informal: Ancaman Sunyi bagi Masa Depan Generasi Muda Purwakarta

Potret Pengangguran di Purwakarta
Potret Pengangguran di Purwakarta

Purwakarta — Setiap pagi, Maulana (19), lulusan SMK jurusan Teknik Otomotif, duduk di teras rumahnya sambil menatap jalanan kampung. Enam bulan sudah berlalu sejak kelulusan, namun pekerjaan tetap tak kunjung datang. “Katanya lulusan SMK siap kerja, tapi nyatanya malah banyak yang nganggur,” ujarnya lirih.

Kisah Maulana mencerminkan potret pengangguran di Purwakarta yang kian memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan bahwa justru lulusan SMA/SMK menjadi kelompok penyumbang pengangguran terbesar, bukan mereka yang berpendidikan rendah.

Baca juga: Perempuan di Purwakarta Masih Tertinggal dalam Dunia Kerja, Ini Angkanya

Dari total 180.401 angkatan kerja lulusan SMA/SMK, sebanyak 21.475 orang tercatat sebagai pengangguran. Angka ini jauh melampaui jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi (525 orang dari 29.041 angkatan kerja), dan bahkan lulusan SMP (9.639 orang dari 102.254 angkatan kerja). Lulusan SD ke bawah yang menganggur pun lebih sedikit, yakni 7.213 orang dari 217.541 angkatan kerja.

Fenomena ini menandakan jebakan keterampilan menengah atau middle skill trap — di mana lulusan menengah terjebak dalam situasi tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk pekerjaan profesional, tetapi juga tak terserap di lapangan kerja dasar.

Realitas Ekonomi dan Kerentanan Sosial

Potret pengangguran di Purwakarta juga tak lepas dari struktur pekerjaan yang didominasi sektor informal. Dari total 490.384 pekerja aktif:

  • 116.768 bekerja mandiri tanpa karyawan tetap,
  • 52.013 adalah pekerja lepas harian,
  • 41.418 merupakan pekerja keluarga yang tak dibayar.

Sementara itu, hanya 214.817 orang yang bekerja sebagai buruh/karyawan tetap. Artinya, mayoritas penduduk bekerja dalam situasi yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan tanpa jaminan sosial.

Situasi ini diperparah oleh rendahnya penghasilan. Meskipun angka kemiskinan resmi hanya 8%, lebih dari 60% penduduk Purwakarta berpenghasilan di bawah Rp 1,5 juta per bulan. Ini menggambarkan kelas pekerja “nyaris miskin” yang meskipun bekerja, tetap sulit mencapai kehidupan layak.

Baca juga: PT KAI Alih Kelola Parkir Stasiun Purwakarta: Juru Parkir Lokal Tak Lagi Punya Tempat

Dampak Potret Pengangguran di Purwakarta bagi Generasi Muda

Tingginya pengangguran lulusan SMA/SMK berdampak sosial yang tak kalah serius. Minimnya peluang kerja menciptakan ketidakpastian, frustrasi, bahkan peningkatan kenakalan remaja. “Kalau terus dibiarkan, ini bisa jadi bom waktu,” ujar seorang guru SMK

Potret pengangguran di Purwakarta ini menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal masa depan generasi muda. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, generasi ini akan kehilangan arah.

Catatan Redaksi: Nama dalam artikel ini telah disamarkan. Data bersumber dari BPS dan hasil liputan tim madilognews.com.

 

Penulis: Agus Sanusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *