Bulan Rajab kembali hadir sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam. Ia kerap dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah personal seperti memperbanyak doa, puasa sunah, dan refleksi diri. Namun, pemaknaan ini sering berhenti di wilayah privat, seolah spiritualitas tidak memiliki konsekuensi sosial. Padahal, dalam tradisi Islam, Rajab bukan hanya soal kesalehan individual, melainkan juga tuntutan kejelasan sikap moral terhadap ketidakadilan.
Rajab termasuk dalam asyhur al-ḥurum, bulan-bulan suci yang di dalamnya kezaliman dilipatgandakan dosanya. Logikanya sederhana. Jika kezaliman menjadi lebih berat di bulan suci, maka kepekaan terhadap mereka yang dizalimi seharusnya juga semakin tajam. Di titik inilah kaum mustaḍ‘afīn, kelompok yang dilemahkan secara sistemik, menjadi pusat refleksi iman.
Al-Qur’an tidak menggambarkan kaum mustaḍ‘afīn sebagai subjek pasif yang menerima nasib tanpa kesadaran. Sebaliknya, mereka hadir sebagai subjek moral yang memiliki daya gugatan. Dalam QS. An-Nisa ayat 75 diajukan pertanyaan yang tajam. Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas. Ayat ini menegaskan satu hal penting. Iman tidak pernah netral, ia selalu berpihak.
Sayangnya, dalam praktik sosial-keagamaan hari ini, penderitaan kaum mustaḍ‘afīn kerap dinormalisasi. Kemiskinan dipuji sebagai kesabaran, ketimpangan dianggap takdir, dan ketidakadilan dilabeli sebagai ujian. Narasi semacam ini berbahaya karena secara halus memindahkan tanggung jawab struktural menjadi beban moral individu. Di sinilah agama berisiko kehilangan fungsi profetiknya dan berubah menjadi alat legitimasi keadaan yang timpang.
Melawan, bagi kaum mustaḍ‘afīn, tidak selalu berarti mengangkat senjata. Perlawanan dapat hadir dalam bentuk penolakan terhadap narasi yang menindas, keberanian bersuara di tengah pembungkaman, serta keteguhan menjaga martabat di dalam sistem yang berupaya merendahkan. Perlawanan semacam ini mungkin sunyi dan kerap diabaikan, tetapi justru menentukan arah perubahan.
Baca juga: Kriminalisasi Aktivis Kembali Terjadi, Kader HMI Bekasi Didakwa atas Unggahan Media Sosial
Rajab seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan makna spiritualitas yang utuh. Hubungan vertikal dengan Tuhan tidak boleh memutus tanggung jawab horizontal kepada sesama manusia. Doa-doa yang dilantunkan di bulan suci kehilangan maknanya jika tidak disertai keberanian untuk menolak ketidakadilan di sekitar kita.
Pada akhirnya, Rajab menghadapkan kita pada satu pertanyaan mendasar yang tidak bisa dihindari. Di mana posisi iman kita ketika berhadapan dengan penderitaan kaum mustaḍ‘afīn. Diam mungkin terasa nyaman, tetapi dalam sejarah moral umat manusia, diam sering kali berarti berpihak, bukan kepada yang tertindas, melainkan kepada yang menindas.
Penulis: Ihya Ulumudin, Wakil Sekretaris Bidang Poldem HMI Cabang Purwakarta












