Madilognews.com – Belakangan ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kebijakan sejumlah pemerintah daerah yang mengirim remaja bermasalah ke barak-barak militer untuk mendapatkan pendidikan karakter. Langkah ini disebut sebagai “solusi” bagi kenakalan remaja dan dianggap bisa mendisiplinkan anak-anak yang dianggap “nakal”, “liar”, atau “sulit diatur”. Namun, apakah pendekatan seperti ini benar-benar efektif? Ataukah justru memperparah luka sosial yang mereka alami?
Di tengah perdebatan ini, menarik untuk menengok bagaimana negara-negara maju menghadapi persoalan yang sama. Finlandia, Selandia Baru, Jerman, Norwegia, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat memilih jalur yang sangat berbeda: bukan militerisasi, melainkan rehabilitasi berbasis sosial, psikologis, dan komunitas.
Baca juga: Mengapa Kita Ingin Selalu Benar? Bias Konfirmasi dalam Otak Kita
Finlandia: Rehabilitasi Bukan Hukuman
Di Finlandia, penahanan remaja adalah langkah terakhir. Negara ini percaya bahwa lebih baik untuk memberikan remaja kesempatan kedua melalui pemulihan daripada menjerumuskan mereka ke dalam siklus kejahatan. Sistem peradilan anak di Finlandia mengutamakan pendidikan, terapi, dan pelatihan keterampilan. Remaja yang terlibat dalam kriminalitas lebih sering dirujuk ke layanan rehabilitasi sosial daripada dipenjara.
Finlandia memfokuskan upayanya pada pencegahan kejahatan dengan memberikan dukungan yang lebih besar bagi keluarga dan individu yang berisiko. Mereka mengintegrasikan program konseling, pendidikan karakter, dan pembinaan keterampilan untuk membantu remaja menyesuaikan diri kembali dengan masyarakat. Dalam hal ini, Finlandia menilai bahwa pendekatan yang lebih manusiawi mampu mengurangi angka residivisme dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Selandia Baru: Family Group Conferencing sebagai Alternatif Penghukuman
Selandia Baru memperkenalkan konsep Family Group Conferencing sebagai bagian dari sistem peradilan anak mereka. Pendekatan ini melibatkan pelaku, korban, dan keluarga dalam penyelesaian masalah yang lebih berbasis pada dialog dan pemulihan hubungan. Daripada hanya fokus pada hukuman, proses ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan dan memperbaiki hubungan yang rusak akibat kejahatan.
Dengan model ini, pihak keluarga dilibatkan untuk bersama-sama merencanakan langkah-langkah pemulihan bagi anak yang terlibat dalam tindak kriminal. Ini memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengambil peran aktif dalam pembinaan anak mereka. Selandia Baru menganggap bahwa pemulihan relasi keluarga dan integrasi sosial adalah aspek penting dalam mencegah residivisme.
Jerman: Pendidikan Vokasional, Bukan Penghinaan Fisik
Jerman adalah contoh negara yang mengutamakan pendidikan vokasional bagi remaja bermasalah. Negara ini memahami bahwa remaja yang terlibat dalam kriminalitas seringkali tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk berkembang di dunia kerja. Oleh karena itu, Jerman menyediakan pelatihan keterampilan teknis dan vokasional yang berfokus pada persiapan kerja dan pengembangan pribadi.
Program pelatihan vokasional ini bukan hanya memberikan remaja keterampilan praktis, tetapi juga meningkatkan harga diri mereka. Banyak dari mereka yang kembali ke masyarakat dengan keterampilan baru dan lebih siap untuk memasuki dunia kerja, mengurangi kemungkinan mereka terjerumus kembali ke dalam dunia kejahatan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pemberian kesempatan kerja sangat krusial untuk mencegah remaja terlibat dalam tindakan kriminal.
Norwegia: Pusat Rehabilitasi yang Ramah Anak
Norwegia dikenal dengan pendekatannya yang sangat menekankan rehabilitasi. Di negara ini, penahanan adalah langkah terakhir bagi remaja yang bermasalah. Pemerintah Norwegia memiliki sistem rehabilitasi yang terintegrasi yang mencakup program pendidikan, pelatihan keterampilan, dan dukungan psikologis untuk membantu remaja beradaptasi kembali ke masyarakat.
Norwegia telah mengembangkan pusat rehabilitasi yang lebih bersifat terapeutik, mengutamakan penyembuhan daripada penghukuman. Mereka memperlakukan remaja dengan rasa hormat dan memberikan mereka kesempatan untuk memahami kesalahan mereka dan mengubah perilaku mereka. Ini tercermin dalam rendahnya tingkat residivisme di negara ini. Di Norwegia, keyakinan bahwa setiap individu, termasuk remaja yang terlibat dalam kejahatan, bisa berubah, sangat dihargai.
Amerika Serikat: Terapi Multisistemik dan Komunitas
Beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga mulai mengadopsi pendekatan berbasis terapi untuk menangani remaja bermasalah. Program Multisystemic Therapy (MST) yang diterapkan di beberapa tempat menekankan pentingnya keterlibatan keluarga, teman sebaya, dan komunitas dalam membantu remaja mengatasi masalah perilaku mereka.
Di samping itu, Communities That Care (CTC) adalah program berbasis komunitas yang melibatkan warga, sekolah, dan organisasi lokal untuk bekerja bersama dalam mengurangi kejahatan remaja. Kedua program ini menekankan pendekatan yang holistik, yang tidak hanya melibatkan sistem peradilan, tetapi juga mendukung perubahan melalui penguatan faktor-faktor pelindung dalam kehidupan remaja.
Mengapa Indonesia Perlu Mengadopsi Pendekatan Ini?
Pengiriman remaja bermasalah ke barak militer bukan solusi jangka panjang. Pendekatan ini berpotensi menimbulkan trauma, melanggengkan kekerasan simbolik, dan mengabaikan aspek psikososial dari kenakalan remaja. Pendidikan karakter tidak bisa dibangun dengan teriakan atau sanksi fisik, melainkan dengan relasi yang sehat, sistem dukungan yang kuat, dan pemahaman terhadap akar masalah.
Dalam banyak kasus, anak-anak yang dianggap “bermasalah” justru adalah korban dari sistem sosial yang gagal. Mereka mungkin tumbuh di keluarga disfungsional, sekolah yang represif, atau lingkungan yang miskin secara ekonomi dan emosional. Mengirim mereka ke barak hanya akan menambah daftar panjang kegagalan negara dalam melindungi anak.
Baca juga: Ilusi Pilihan Bebas: Apakah Kita Benar-Benar Merdeka dalam Memilih?
Waktunya Belajar, Bukan Menghukum
Jika Indonesia sungguh-sungguh ingin membangun generasi yang berkarakter, maka saatnya menoleh ke pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis bukti. Negara maju sudah membuktikan bahwa rehabilitasi, terapi, dan pendidikan adalah jalan keluar yang lebih bermartabat daripada kekerasan simbolik.
Alih-alih memperluas program “militerisasi remaja”, pemerintah perlu mengembangkan pusat rehabilitasi remaja berbasis komunitas, menyediakan konselor di sekolah, memperkuat pelatihan vokasional, dan membuka ruang bagi keluarga serta masyarakat untuk terlibat aktif. Bukan dengan mencabut mereka dari akarnya, tetapi dengan menyirami mereka di tanah yang lebih subur.

