Kritik bahwa revolusi hanya melahirkan tiran baru sebenarnya berangkat dari satu asumsi yang keliru: seolah-olah revolusi adalah sekadar ledakan kemarahan massa yang spontan dan tanpa arah. Padahal dalam tradisi pemikiran revolusioner yang matang, terutama dalam gagasan Tan Malaka dan praktik historis revolusi Rasulullah, revolusi justru dipahami sebagai proses pembangunan sistem baru yang terencana, bukan sekadar penghancuran yang lama.
Tan Malaka sejak awal menolak romantisme revolusi yang hanya berisi heroisme jalanan. Dalam Madilog dan Aksi Massa, ia menegaskan bahwa revolusi bukanlah soal “menggulingkan” semata, melainkan soal merebut alat produksi, membangun kesadaran rasional rakyat, dan menciptakan organisasi yang mampu mengelola kekuasaan setelah kemenangan. Tan Malaka bahkan mengkritik keras pemberontakan yang tidak memiliki basis pendidikan politik dan struktur organisasi, karena baginya revolusi tanpa kesiapan sistem hanya akan menjadi “pemberontakan emosional” yang memang berujung pada kekacauan.
Artinya, jika banyak revolusi di dunia Muslim gagal dan melahirkan elit baru, itu bukan bukti bahwa revolusi sebagai konsep keliru, melainkan bukti bahwa revolusi tersebut tidak memenuhi syarat objektif revolusi sejati: kesadaran massa, organisasi politik yang kuat, dan rancangan sistem pengganti yang jelas. Tan Malaka justru akan menyebut fenomena seperti Arab Spring bukan revolusi, melainkan pergolakan kekuasaan yang prematur.
Hal yang sama terlihat dalam revolusi yang dipimpin Rasulullah. Jika dilihat secara sosiologis, perubahan yang terjadi di Jazirah Arab bukan sekadar pergantian rezim, melainkan transformasi struktural yang sangat radikal. Rasulullah tidak hanya menjatuhkan elite Quraisy, tetapi juga merombak total fondasi sosial: sistem kesukuan diganti dengan konsep ummah, monopoli ekonomi elite dibongkar melalui zakat dan larangan riba, serta hukum ditata ulang dengan prinsip keadilan universal yang berlaku bahkan bagi penguasa.
Yang sering dilupakan adalah bahwa revolusi Rasulullah berlangsung dalam dua tahap yang sangat sistematis: fase pembentukan kesadaran dan jaringan sosial di Mekkah, lalu fase pembangunan institusi politik di Madinah. Piagam Madinah sendiri merupakan bukti bahwa revolusi itu tidak berakhir pada kemenangan, tetapi justru dimulai dengan pembangunan sistem hukum dan kontrak sosial yang stabil. Di sinilah letak perbedaannya dengan banyak revolusi modern yang gagal: mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan lama, tetapi tidak memiliki arsitektur institusional yang matang untuk menggantikannya.
Karena itu, menyimpulkan bahwa revolusi hanya melahirkan tiran baru sebenarnya terlalu menyederhanakan sejarah. Banyak perubahan sosial paling mendasar di dunia justru lahir dari momentum revolusioner: penghapusan feodalisme, runtuhnya kolonialisme, hingga lahirnya negara demokrasi modern. Bahkan kemerdekaan Indonesia sendiri adalah hasil revolusi yang dipersiapkan melalui organisasi politik, pendidikan kader, dan kesadaran kolektif selama puluhan tahun.
Masalah utamanya bukan revolusi, melainkan siapa yang memimpin dan seberapa matang kesadaran sosial yang mendukungnya. Tanpa basis pendidikan politik dan organisasi rakyat, kekosongan kekuasaan memang akan diisi oleh elit paling terorganisir, yang sering kali adalah militer atau oligarki baru. Namun ketika revolusi ditopang oleh gerakan rakyat yang sadar dan memiliki struktur ekonomi mandiri, ia justru menjadi jalan untuk memutus siklus penindasan yang tidak mungkin diubah melalui reformasi parsial.
Reformasi memiliki batasnya sendiri, karena ia bekerja di dalam sistem yang sudah dikuasai elite lama. Tan Malaka menyebut kondisi ini sebagai “perubahan kosmetik” yang tidak menyentuh struktur kepemilikan kekuasaan. Dalam situasi ketimpangan ekstrem, revolusi bukanlah romantisme, melainkan mekanisme sejarah ketika sistem sudah tidak lagi mampu diperbaiki dari dalam.
Dengan demikian, revolusi tidak bisa dipahami sebagai solusi instan, tetapi juga tidak bisa direduksi sebagai bencana yang pasti melahirkan tirani. Ia adalah alat sejarah yang netral: bisa menjadi jalan pembebasan ketika disertai kesiapan organisasi dan visi sistemik, atau menjadi pintu chaos ketika hanya didorong oleh kemarahan tanpa perencanaan.
Dan di titik inilah pelajaran dari Tan Malaka dan Rasulullah bertemu: revolusi sejati bukan tentang menghancurkan semata, melainkan tentang membangun tatanan baru yang lebih adil, dengan kesadaran, organisasi, dan sistem yang jauh lebih kuat daripada yang digantikannya.
Penulis: Yudist Zulfan












