Sering kali, kita terjebak dalam perdebatan yang tidak membahas inti masalah. Alih-alih mengkritisi gagasan, yang terjadi malah penyerangan terhadap pribadi. Hal ini sering terjadi di kehidupan sehari-hari baik dalam obrolan warung, ruang kelas, ruang rapat bahkan seminar. Apalagi di era digital di media sosial maupun dalam percakapan di grup WhatsApp. Kesesatan berpikir itu disebut ad hominem.
Sederhananya, ini adalah cara berpikir yang menganggap sebuah argumen salah hanya karena orang yang mengutarakannya tidak sesuai dengan standar atau ekspektasi kita. Misal orang beragumentasi pentingnya moralitas yang baik, tapi dianggap salah hanya karena yang mengutarakan dianggap kurang baik secara moral.
Padahal kualitas sebuah argumen seharusnya diukur dari isi dan logikanya, bukan dari siapa yang mengatakannya. Namun, kenyataannya, kita sering kali malah menyerang pribadi orang, bukan gagasannya. Ini adalah pola yang sangat mudah ditemui, terutama di ruang digital yang semakin terbuka dan bebas.
Menyerang Identitas, Bukan Argumen
Fenomena ini cukup mengganggu bahkan berbahaya sebab menjadi kebiasaan berpikir. Beberapa waktu lalu misal saya mengikuti percakapan di sebuah group WA. Seorang anggota membagikan ayat suci. Ia diprotes anggota lain karena dianggap group itu bukan tempatnya. Oke sampai disini diskusi masih sehat. Lalu muncul anggota lain menyerang pribadi orang pertama tadi dengan membeberkan perilaku buruknya hingga dianggap “munafik”.
Saya sempat terdiam sejenak dan berpikir: Kenapa harus begitu? Apa hubungannya diskusi soal relevansi konten agama dengan kehidupan pribadi seseorang? Itu sebuah gagasan yang bisa dipertanyakan dan diperdebatkan, bukan hal yang bisa langsung dibungkam hanya karena kesalahan masa lalu?
Fenomena seperti ini bukan hanya tentang satu orang atau satu kasus. Ini adalah pola umum yang sering terjadi, terutama di ruang-ruang maya. Di media sosial, kita bisa melihat banyak sekali komentar yang lebih fokus pada menyerang siapa yang mengutarakan pendapat, bukan pada substansi apa yang dibicarakan. Semakin sering kita melihatnya, semakin terasa bahwa diskusi yang kita lakukan bukan untuk mencari solusi atau pemahaman bersama, melainkan sekadar untuk memenangkan debat dengan cara apapun—termasuk menyerang pribadi.
Ketika Tak Bisa Menjawab, Serang Orangnya
Pernahkah Anda merasa seperti perdebatan sudah tidak lagi tentang ide, tapi lebih tentang siapa yang berargumen? Rasanya, ini adalah langkah mudah bagi banyak orang: saat argumen tidak bisa dijawab atau dipertahankan, serang saja orangnya. Bukan hanya di grup WhatsApp atau media sosial, ini juga terjadi dalam diskusi langsung. Ketika logika tak mampu mengalahkan logika, serangan personal sering kali menjadi jalan keluar.
Tentu saja, ini adalah cara yang lebih cepat dan mudah untuk mengakhiri sebuah diskusi. Menggugat seseorang, mengungkit aib, atau bahkan menuduhnya dengan label tertentu sering kali menjadi cara yang lebih nyaman dibandingkan harus memikirkan argumen yang lebih kuat. Tapi, di situlah letak kekeliruan terbesar. Kita lupa bahwa perdebatan yang baik seharusnya tentang ide, bukan tentang siapa yang menyampaikannya.
Refleksi: Di Mana Letak Kualitas Perdebatan Kita?
Ada kalanya saya merenung tentang hal ini. Apakah perdebatan kita hanya tentang siapa yang lebih “benar” dalam perspektif pribadi, ataukah ada ruang untuk menyelami ide dan argumen dengan lebih dalam? Kenapa kita lebih sering menyerang karakter seseorang ketimbang mempertanyakan logika dan alasan di balik pandangannya?
Pola ini sering di jumpai, terutama di dunia maya. Media sosial telah menciptakan ruang gema di mana orang-orang hanya mendengarkan dan menyetujui apa yang sesuai dengan pandangan mereka, tanpa benar-benar mendengarkan atau mempertimbangkan pandangan orang lain. Dan ketika pandangan yang bertentangan muncul, yang terjadi bukan perdebatan yang sehat, melainkan penghancuran karakter.
Saya ulangi, kebiasaan berpikir ini jelas berbahaya. Bukankah perdebatan yang sehat adalah tentang mengasah pemikiran kita, bukan hanya menang atau kalah dalam sebuah diskusi? Kita harusnya belajar untuk menerima pandangan yang berbeda, tanpa harus meruntuhkan orang yang menyampaikannya.
Membangun Perdebatan yang Lebih Sehat
Refleksi ini membawa saya pada kesadaran bahwa kita perlu membangun kembali budaya berdebat yang lebih sehat. Kita harus mulai mengedepankan kualitas argumen dan mengesampingkan serangan terhadap identitas pribadi. Mungkin ada kalanya kita tidak setuju, atau merasa pendapat seseorang keliru. Itu wajar. Namun, saat kita memilih untuk menyerang orangnya ketimbang membahas argumennya, kita justru menghindari peluang untuk tumbuh dan belajar dari perbedaan.
Dengan begitu, perdebatan tidak lagi menjadi ajang untuk saling menjatuhkan, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan memperkaya wawasan kita. Kita harus berhenti berfokus pada siapa yang berbicara, tapi pada apa yang mereka katakan. Hanya dengan begitu, kita bisa menciptakan ruang diskusi yang produktif dan penuh rasa hormat. (Red)
Catatan :
Tulisan ini bagian dari seri Akal Sehat, ruang reflektif untuk mempertajam cara berpikir di tengah debat publik yang sering melenceng dari logika.
Baca juga:
Tu Quoque: Kesesatan Logika yang Merusak Akal Sehat dan Menumpulkan Moral Publik












