Madilognews.com – Empati sering dipandang sebagai kebajikan moral tertinggi. Namun, terlalu peduli bisa jadi bumerang. Psikolog dari Yale University, Paul Bloom, dalam bukunya Against Empathy: The Case for Rational Compassion (2016), justru menantang anggapan ini. Menurut Bloom, empati emosional bisa menggiring kita pada keputusan tidak adil dan bias.
“Empati mengarahkan kita untuk fokus pada penderitaan satu individu, seringkali mengabaikan konteks yang lebih luas dan keputusan yang lebih bijak.”
Baca juga: Mengapa Kita Mudah Mengikuti Mayoritas? Mengungkap Psikologi Sosial di Balik Konformitas
Alih-alih menumbuhkan keadilan, empati justru bisa membuat kita bertindak impulsif dan tidak objektif.
Compassion Fatigue: Ketika Empati Menjadi Beban
Di dunia nyata, empati berlebihan dapat menyebabkan compassion fatigue atau kelelahan belas kasih. Fenomena ini paling banyak ditemukan pada tenaga kesehatan dan pekerja sosial.
Studi oleh Sorenson et al. (2016) dalam BMC Health Services Research menunjukkan bahwa tenaga medis yang terus-menerus menyaksikan penderitaan pasien rentan mengalami kelelahan emosional dan depresi.
“Tingkat empati yang tinggi tanpa mekanisme penanganan yang memadai sangat terkait dengan kelelahan emosional dan stres traumatik sekunder.”
Penelitian terbaru oleh López-Cabarcos et al. (2023) selama pandemi COVID-19 juga menemukan bahwa empati yang tidak terkendali berdampak serius terhadap kesehatan mental para tenaga medis.
Distres Empatik dan Dampaknya
Empati bukan hanya melelahkan; ia juga bisa menyakiti. Dalam kondisi ekstrem, seseorang bisa mengalami empathic distress fatigue—yakni kondisi ketika terlalu banyak menyerap penderitaan orang lain membuat seseorang menjadi mati rasa, apatis, atau menarik diri dari kehidupan sosial.
Menurut psikolog Kendra Cherry: “Anda mungkin menjadi mati rasa secara emosional, jauh, atau bahkan apatis—bukan karena Anda tidak peduli, tetapi karena Anda peduli terlalu banyak.” (Cherry, 2022, Verywell Mind)
Inilah ironi dari empati: ketika terlalu banyak, justru membuat kita kehilangan kemampuan untuk peduli secara sehat.
Baca juga: Mengapa Kita Ingin Selalu Benar? Bias Konfirmasi dalam Otak Kita
Rasionalisasi Empati: Menjadi Peduli dengan Batasan
Solusinya bukan menolak empati, melainkan membentuk empati yang sehat—rational compassion. Paul Bloom menyarankan agar kita mengganti empati emosional dengan empati kognitif: memahami perasaan orang lain tanpa harus larut dalamnya.
Langkah-langkah praktis:
-
Gunakan empati kognitif, bukan emosional.
-
Jaga batas emosional, terutama bagi yang bekerja di bidang pelayanan publik.
-
Lakukan perawatan diri dan refleksi secara rutin.
Kesimpulan
Empati adalah kekuatan, tapi juga bisa menjadi kelemahan jika tidak dikelola dengan sehat. Mengenali sisi gelap empati bukan berarti kita menjadi apatis, tapi justru membuka ruang untuk berempati secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Dengan empati yang rasional, kita bisa tetap peduli tanpa kehilangan diri sendiri.
Sumber:
Bloom, P. (2016). Against Empathy: The Case for Rational Compassion. HarperCollins.
Sorenson, C., Bolick, B., Wright, K., & Hamilton, R. (2016). Understanding compassion fatigue in healthcare providers: a review. BMC Health Services Research, 16(1), 1-9. https://doi.org/10.1186/s12913-016-1481-2
López-Cabarcos, M.Á., López-Pérez, M. V., & Vázquez-Rodríguez, P. (2023). Compassion fatigue and burnout among healthcare professionals during COVID-19: a systematic review. BMC Health Services Research. https://bmchealthservres.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12913-023-10356-3
Cherry, K. (2022). Can You Have Too Much Empathy? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/can-you-have-too-much-empathy-5224139

