Berita  

Dinilai Lebih Inklusif, Hari Jadi Purwakarta 2025 Disebut Berbeda dari Tahun-Tahun Sebelumnya

IMG 20250805 WA0035

Madilognews.com – Rangkaian Milangkala ke-194 Kota dan ke-57 Kabupaten Purwakarta yang ditutup Minggu (27/7/2025) dinilai berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, baik dari segi konsep maupun pendekatan terhadap masyarakat. Jika pada tahun 2023 dan 2024 dominan dengan nuansa selebratif dan panggung besar, perayaan tahun ini justru menghadirkan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.

Mengusung tema “Ngurus Lembur, Nata Kota, Ngorek Purwakarta Istimewa”, kegiatan Milangkala 2025 berlangsung lebih dari sebulan. Selain ajang Purwakarta Run 5K, terdapat berbagai program seperti Tradisi Mitembeyan, Festival Budaya Nusantara, Expo UMKM, dan aksi massal Ngosrek Purwakarta yang diklaim memecahkan rekor nasional.

Baca juga: Pariwisata Bangkit, Ekonomi Bergerak: Semangat Baru dari Hari Jadi Purwakarta 2025

“Milangkala tahun ini terasa lebih hidup karena melibatkan lebih banyak lapisan warga. Ini berbeda dari sebelumnya yang lebih seremonial,” ujar Risky Widya Tama, aktivis dari Lembaga Kajian Kebijakan Publik Analitika Purwakarta, saat dimintai pendapat, Selasa(05/8).

Menurutnya, perubahan pendekatan ini patut diapresiasi, karena menunjukkan bahwa perayaan daerah bisa menjadi ruang partisipasi nyata, bukan hanya pesta simbolik.

Pergeseran Pendekatan: Dari Panggung ke Partisipasi

Risky menyoroti perbedaan signifikan antara Milangkala tahun ini dengan dua tahun sebelumnya.

“Kalau 2023 lebih banyak konser, dan 2024 didominasi parade selebrasi, maka 2025 lebih menyentuh akar rumput. Tiap kecamatan dan komunitas diberi ruang,” ungkapnya.

Salah satu program yang menarik perhatian adalah Tukar Nasib, di mana sejumlah pejabat menjalani peran sebagai petugas kebersihan selama sehari. Bagi Risky, program seperti ini mencerminkan pergeseran dari pendekatan top-down menjadi lebih empatik.

Namun ia mengingatkan, semangat tersebut tidak boleh berhenti di tataran acara.

“Yang terpenting, partisipasi publik ini harus ditindaklanjuti. Pemerintah bisa menjadikannya fondasi dalam menyusun kebijakan lewat forum-forum seperti musrenbang tematik atau diskusi lintas desa,” katanya.

Baca juga: Warga Apresiasi Purwakarta Run 5K: Perayaan Hari Jadi yang Penuh Semangat dan Kebersamaan

Momentum untuk Kebijakan Inklusif

Risky menilai, Milangkala 2025 bisa menjadi titik balik untuk menghidupkan kembali kepercayaan dan koneksi antara pemerintah dan masyarakat. Bukan hanya karena skala acaranya, tapi karena pendekatannya yang lebih terbuka.

“Jika perayaan saja bisa dilakukan bareng-bareng, kenapa tidak dengan perencanaan pembangunan?” pungkasnya.

 

Penulis: Agus Sanusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *