Purwakarta – Madilognews.com – Di tengah tren positif pembangunan manusia, Kabupaten Purwakarta masih menghadapi tantangan serius di sektor ketenagakerjaan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat, kemiskinan berangsur menurun, namun akses terhadap pekerjaan belum sepenuhnya membaik.
Data Badan Pusat Statistik dalam publikasi Purwakarta Dalam Angka 2026 mencatat IPM Purwakarta naik dari 73,43 pada 2023, menjadi 73,99 pada 2024, dan mencapai 74,97 pada 2025 . Capaian ini menempatkan Purwakarta dalam kategori pembangunan manusia menengah atas.
Baca juga: Separuh Perempuan Purwakarta Menikah Sebelum 19 Tahun: Tradisi atau Keterpaksaan?
Sejalan dengan itu, angka kemiskinan menunjukkan tren penurunan. Dari 8,46 persen pada 2023, turun menjadi 8,41 persen pada 2024, dan kembali menurun ke 7,87 persen pada 2025 . Meski membaik, laju penurunannya relatif terbatas.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka belum menunjukkan kestabilan. Setelah turun dari 7,72 persen pada 2023 menjadi 7,34 persen pada 2024, angka tersebut kembali naik ke 7,54 persen pada 2025 .
Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan IPM yang mencerminkan perbaikan pada aspek pendidikan, kesehatan, dan daya beli belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan pasar kerja.
Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta, Dzikri Baehaki Firdaus, yang akrab disapa Dzarot, menilai terdapat jarak antara capaian indikator pembangunan manusia dengan realitas ekonomi masyarakat.
“Kenaikan IPM itu penting, tapi tidak otomatis berarti masyarakat lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Dalam banyak kasus, perbaikan pendidikan dan kesehatan belum langsung terhubung dengan penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.
Menurutnya, IPM lebih merefleksikan capaian dasar, sementara persoalan pengangguran sangat bergantung pada kekuatan struktur ekonomi daerah.
“Kalau sektor ekonomi tidak berkembang secara inklusif, maka yang terjadi adalah peningkatan kualitas individu tanpa diikuti peluang ekonomi yang cukup. Di situ biasanya pengangguran menjadi sulit ditekan,” katanya.
Ia juga menilai pola kenaikan IPM yang cenderung stabil menunjukkan pembangunan berjalan secara bertahap, namun belum menyentuh aspek transformasional.
Baca: Bonus Demografi atau Bonus Pengangguran? Potret Pemuda Purwakarta Hari Ini
“Data ini mengindikasikan pembangunan berjalan, tetapi masih dalam pola rutin. Tantangannya adalah bagaimana mendorong lompatan, terutama di sektor yang bisa menciptakan pekerjaan,” ucapnya.
Secara umum, tren pembangunan di Purwakarta bergerak ke arah positif. Namun, tanpa penguatan sektor ketenagakerjaan dan peningkatan produktivitas ekonomi, kenaikan IPM berpotensi hanya mencerminkan kemajuan bertahap, bukan percepatan kesejahteraan yang dirasakan luas oleh masyarakat.












