Purwakarta – Madilognews– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan di Kampung Salem, Desa Salem, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta, diduga tidak layak konsumsi. Seorang orang tua murid mengeluhkan kondisi makanan yang dinilai berbau tidak sedap dan memiliki rasa asam, sehingga dikhawatirkan tidak aman untuk dikonsumsi anak-anak.
Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa makanan MBG kerap membuat anak-anak enggan memakannya. Bahkan, ia sebagai orang tua mengaku tidak sanggup mengonsumsi makanan tersebut karena bau dan rasa yang dianggap tidak wajar.
Baca juga: Kawal MBG Soroti Pembagian Paket MBG Mirip Snack Ulang Tahun di Purwakarta
“Jangankan anak-anak, saya sebagai ibunya saja enggan memakan masakan MBG karena tidak enak dan kadang baunya menyengat,” ujarnya.
Menurut pengakuannya, keluhan tersebut tidak terjadi sekali atau dua kali, melainkan hampir setiap hari. Anak-anaknya sering menyampaikan keluhan terkait berbagai menu MBG yang diterima di sekolah, mulai dari telur rebus, sayur, ayam suwir, hingga daging.
“Anak saya sering mengeluh. Katanya, ‘Mah, telurnya bau, sayurnya asam, dagingnya bau,’” tuturnya.
Akibat kondisi tersebut, makanan MBG sering kali tidak dikonsumsi dan dibawa pulang dalam keadaan utuh.
“Hampir setiap hari anak-anak saya membawa pulang MBG karena tidak dimakan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, makanan tersebut akhirnya tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
“MBG yang dibawa pulang akhirnya saya berikan ke ayam, karena memang tidak layak dimakan,” katanya.
Narasumber juga menjelaskan bahwa dapur atau titik distribusi MBG berada di wilayah Kampung Salem, Desa Salem, tidak jauh dari jembatan dan dari lokasi sekolah. Ia menilai kualitas makanan yang diterima anak-anak justru semakin menurun dari waktu ke waktu.
“Kadang di hari biasa cuma diberi telur rebus dan ayam suwir, tapi rasanya tidak enak dan baunya menyengat,” ujarnya.
Menurutnya, pihak sekolah mengetahui adanya keluhan tersebut dan tidak mengizinkan siswa untuk menyampaikan kritik atau keluhan secara terbuka terkait program MBG.
“Anak-anak dilarang untuk bicara atau mengeluh soal MBG,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keluhan tersebut bukan hanya datang dari dirinya seorang. Menurutnya, banyak orang tua murid lain, khususnya para ibu, memiliki keluhan serupa, namun memilih untuk diam karena khawatir mendapat tekanan.
“Sebenarnya bukan saya saja. Banyak ibu-ibu lain juga mengeluhkan hal yang sama, hanya saja mereka tidak berani menyampaikan,” tuturnya.
Narasumber menegaskan bahwa penyampaian keluhan ini tidak dimaksudkan untuk menolak program MBG, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan anak-anak.
“Saya tidak menolak program MBG. Programnya bagus, tapi kalau makanannya bau dan tidak layak, itu justru membahayakan anak-anak,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pengelola MBG setempat maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut. Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab dari pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku.












