Buka Data: Lulusan Baru Gen Z di Purwakarta yang Terserap Kerja Hanya 27,5% per Tahun

Lulusan Baru Gen Z di Purwakarta yang Terserap Kerja Hanya 27,5% per Tahun

PurwakartaMadilognews.com – Lulusan baru Gen Z di Purwakarta menghadapi tantangan berat dalam memasuki dunia kerja formal. Data Dinas Tenaga Kerja Purwakarta mencatat sepanjang tahun 2024 terdapat 8.422 pencari kerja terdaftar, namun hanya 2.314 orang atau sekitar 27,5 persen yang berhasil terserap kerja formal. Sisanya, 72,5 persen, masih berstatus pengangguran atau bekerja di sektor informal dengan rata-rata pendapatan 1-2 juta rupiah dan minim perlindungan.

Sebagian besar pencari kerja ini berasal dari generasi Z—mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012—yang saat ini mendominasi pasar tenaga kerja lulusan baru. Mayoritas lulusan berasal dari SMA/SMK, sekitar 70 persen dari total pencari kerja, diikuti lulusan diploma dan sarjana sekitar 20 persen, serta lulusan SD/SMP sekitar 10 persen, menurut BPS Purwakarta Dalam Angka 2025.

Baca juga: Buka Data: Pengangguran Jawa Barat Tembus 7,93 Persen, Tertinggi Kedua Nasional

Karakter generasi Z yang melek teknologi dan memiliki preferensi kerja yang berbeda, ternyata belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri di Purwakarta. Sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian masih menjadi penampung utama tenaga kerja, namun daya serap pasar kerja formal cenderung stagnan karena karakter industri yang padat modal.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran di Purwakarta naik dari 6,90 persen pada 2023 menjadi 7,34 persen pada 2024, setara dengan 34.905 orang penganggur. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan kronis antara jumlah lulusan baru Gen Z yang masuk ke pasar kerja dengan kemampuan pasar menyerap mereka secara optimal.

Baca juga: Buka Data: Empat Tahun, Lahan Sawah Purwakarta Hilang Setara 3.000 Lapangan Sepak Bola

Masalah pengangguran lulusan baru Gen Z ini bukan hanya persoalan kuantitas lapangan kerja, melainkan juga kualitas dan kesesuaian keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan pasar. Tanpa strategi pengembangan keterampilan yang tepat, pembukaan lapangan kerja di sektor padat karya, serta penguatan ekosistem usaha lokal, tantangan ini diperkirakan akan terus berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *