Site icon Madilognews.com

Ketika Pertanyaan tentang Gerakan Perempuan Dijawab dengan CV Aktivis

IMG 20260707 WA0008

Kalau sebelum minggu ini seseorang bertanya kepada saya, “Apa wajah Gerakan Perempuan di Purwakarta?”, saya mungkin akan kesulitan menjawab. Bukan karena saya tidak mengenal para aktivisnya, melainkan karena gerakannya sendiri jarang tampil sebagai representasi di ruang publik.

Yang lebih sering saya lihat justru forum politik, isu anggaran, pembangunan, demonstrasi, dan kritik terhadap pemerintah kebanyakan digerakkan laki-laki.

Tiba-tiba sebuah lagu muncul dan menjadi kontroversi, seketika itu juga Diskusi bertajuk “Menggugat Nalar Seksisme dalam Lirik Lalaki Langit: Lalanang Bejat” yang digelar Koalisi Perempuan Purwakarta.

Baca juga: Saat Aktivis Perempuan Menggugat Lirik, tetapi Abai pada Kebijakan Publik

Dengan pikiran itulah saya menulis, singkat padat tak banyak argumen tentu sambil memperkirakan respon dan jawaban yang kemudian akan muncul setelahnya.

Saya menerima tangkapan layar komentar Arini dan rekan-rekan disebuah group whatsapp. Ya soal itu saya tertawa saja.

Tak lama saya menerima link tulisan Arini sebagai jawaban atau mungkin bantahan atas apa yang saya tulis.

Ya, sejujurnya saya menikmati tulisan Arini Joesoef. Bayangkan saya memesan semangkuk bakso lalu tiba tiba pelayan datang membawa sertifikat bahwa kokinya sudah memasak selama dua puluh tahun.

Saya terkesima. Membaca sampai akhir.

Sampai hampir lupa bertanya, “Lho, baksonya mana?”

Begitulah rasanya membaca respons Arini terhadap tulisan saya.

Saya bertanya tentang gerakan.

Arini menjawab tentang Arini.

Saya mempertanyakan bagaimana gerakan perempuan tampil di ruang publik.

Arini menjelaskan apa saja yang telah ia kerjakan selama ini.

Saya bertanya tentang prioritas yang tampak.

Arini menjawab dengan portofolio yang memang tidak tampak.

Di situlah letak persoalannya.

Iya betul, sejak awal saya menggunakan istilah aktivis perempuan” dalam judul tulisan. Tapi pemilihan kaya itu semata karena forum tersebut memang menghadirkan aktivis perempuan sebagai narasumber. Namun sesungguhnya substansi kritik saya tidak pernah diarahkan kepada biografi mereka.

Saya tidak sedang mengaudit kehidupan Arini Joesoef

Saya tidak sedang bertanya tentang aktivisme Shela Amelia

Saya tidak mempersoalkan advokasi dan pemberdayaan Yayu NH

Saya sedang mengkritik apa yang disebut “representasi sebuah gerakan”.

Dan justru bukankah konsep representasi merupakan salah satu hal penting dalam teori feminis? Jika feminisme mengkritik bagaimana perempuan direpresentasikan dalam budaya, bahasa, dan media, bukankah semestinya representasi gerakan perempuan juga bisa dikritik?

Dalam tulisannya Arini menjelaskan bahwa ia telah menulis ratusan esai, mendampingi korban, membuka kelas gratis, bahkan melakukan berbagai kerja advokasi yang sengaja tidak dipublikasikan.

Jujur saya tidak memiliki alasan untuk meragukan semua itu. Sangat mungkin seluruhnya benar. Namun pertanyaan saya tetap sama: apa hubungan semua itu dengan kritik yang saya ajukan?

Bisa jadi Arini menulis. Bisa jadi Shela ikut demonstrasi. Bisa jadi Yayu melakukan advokasi.

Lalu apa?

Apakah seluruh aktivitas individu tersebut otomatis menjawab pertanyaan mengenai bagaimana gerakan perempuan menentukan agenda yang paling menonjol di ruang publik?

Menurut saya, belum.

Gerakan sosial tidak diukur dari daftar prestasi individu para aktivisnya. Gerakan diukur dari agenda kolektif yang dipilih, diperjuangkan, dan ditampilkan kepada publik.

Jika kritik terhadap gerakan selalu dijawab dengan daftar capaian pribadi, lama-kelamaan setiap kritik hanya berubah menjadi sesi perkenalan narasumber, atau kritik hanya akan berbuah jawaban berupa personal branding mereka yang menyebut diri aktivis perempuan.

Padahal yang dipersoalkan bukan siapa yang paling banyak bekerja, melainkan apa yang sedang dipilih untuk diperjuangkan secara bersama.

Arini juga menilai saya seolah mempertentangkan kritik budaya dengan kritik terhadap kebijakan publik.

Saya membaca ulang tulisan saya.

Yang saya temukan justru kalimat ini:

“Tidak ada yang salah dengan itu. Mengkritik karya seni adalah bagian dari kebebasan berekspresi sekaligus kebebasan berpendapat.”

Kalimat itu berada di bagian awal tulisan. Artinya, sejak awal saya tidak pernah mempersoalkan kritik terhadap lagu.

Yang saya pertanyakan hanya satu: mengapa ketika sebuah lagu dianggap seksis, ruang publik dapat bergerak begitu cepat, sementara ketika perempuan berhadapan dengan pelayanan publik yang buruk, lemahnya perlindungan korban, persoalan kesehatan, pendidikan, atau dugaan penyimpangan kebijakan publik, energi kolektif itu tidak tampak dengan intensitas yang sama?

Forum publik itu bukan seluruh kehidupan aktivisme para narasumber. Ruang publik bekerja melalui simbol. Dan itu tepat persis seperti argumen yang dipakai Arini untuk menjelaskan mengapa lirik lagu penting dikritik.

Kalau simbol penting, maka pilihan tema forum juga simbol. Kalau representasi penting, maka representasi agenda juga penting. Kalau budaya membentuk cara berpikir masyarakat, bukankah sebuah forum publik juga sedang membentuk persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap paling mendesak?

Itulah pertanyaan saya. Bukan larangan untuk mengkritik budaya.

Ironisnya, bantahan Arini justru banyak diarahkan pada tuduhan yang tidak pernah saya buat.

Di bagian lain, Arini mempertanyakan apakah saya benar-benar menyimak forum.

Tentu saya boleh membalas dengan pertanyaan yang sama.

Apakah Arini benar-benar menyimak tulisan saya?

Sebab sebagian besar jawabannya tampak lebih banyak membantah asumsi yang tidak pernah saya tulis daripada menjawab pertanyaan yang benar-benar saya ajukan.

Arini juga mengatakan bahwa tidak semua kerja advokasi harus dipublikasikan.

Saya setuju.

Namun ada konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Publik hanya dapat menilai apa yang memang hadir di ruang publik. Masyarakat tidak mungkin diminta mengevaluasi kerja yang sengaja tidak diperlihatkan.

Karena itu, ketika publik mempertanyakan wajah sebuah gerakan, jawaban yang relevan bukanlah daftar aktivitas yang memang tidak pernah mereka lihat. Pertanyaan publik tidak otomatis gugur hanya karena ada banyak kerja yang berlangsung di balik layar.

Jika logika sebaliknya diterima, maka setiap kritik terhadap representasi publik cukup dijawab dengan kalimat, “Kami sebenarnya banyak bekerja, hanya saja tidak dipublikasikan.”

Logika semacam itu justru menutup ruang evaluasi terhadap bagaimana sebuah gerakan membangun citra, memilih agenda, dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Padahal gerakan sosial tidak hanya hidup dari kerja-kerja sunyi. Ia juga hidup dari pesan yang dipilih untuk ditampilkan kepada publik. Dan terhadap pesan itulah publik berhak mengajukan pertanyaan.

Sebab sejak awal saya tidak sedang mengukur siapa aktivis terbaik. Saya hanya mengajukan satu pertanyaan yang hingga kini, menurut saya, belum benar-benar terjawab.

Mengapa gerakan begitu cepat terkonsolidasi ketika objeknya sebuah lagu, tetapi tidak tampak memiliki daya dorong yang sama ketika perempuan berhadapan dengan kebijakan publik yang secara langsung menentukan kualitas hidup mereka?

Baca juga: Kasus Lagu Bupati Purwakarta: Ketika Intentional Fallacy Mengancam Kebebasan Berekspresi dalam Demokrasi

Jika pertanyaan sesederhana itu kemudian dianggap dangkal, mungkin yang perlu dipikirkan kembali bukan kualitas pertanyaannya, melainkan juga cara menjawabnya.

Oh iya, saya juga cukup menikmati bagian ketika kapasitas saya sebagai pengamat sosial dipersoalkan. Feminisme konon menolak relasi kuasa yang membuat suara seseorang lebih berharga daripada suara orang lain.

Tapi ya sudahlah!

Mungkin memang sejak awal saya salah pesan. Saya mengira sedang memesan semangkuk bakso. Ternyata yang datang adalah portofolio kokinya.

Penulis: Agra D. Raksa

Penulis dan Pengamat Sosial 

Exit mobile version