Sejarah terlalu sering mengabadikan nama laki-laki di halaman depan, sementara perempuan yang ikut menjaga api perjuangan justru dibiarkan tinggal di catatan kaki.
Kita tumbuh dengan membaca kisah orang-orang besar. Tentang bagaimana mereka berani menentang penjajahan, melawan penindasan, menggerakkan rakyat, dan mempertaruhkan hidup demi kemerdekaan bangsa. Kita mengenal K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, S.M. Kartosoewirjo, hingga Jenderal Sudirman sebagai tokoh yang meninggalkan jejak penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Dari buku Kekasih Orang-orang Pergerakan karya Kholid O. Santoso, perempuan dalam sejarah perjuangan Indonesia tidak sedikit, bahkan mereka berperan langsung dalam pentas sejarah, kemudian berjuang bersama di sampingnya dengan kekasihnya. Maka muncul sebuah adagium, “Di belakang orang besar, ada perempuan yang menjadi penyokongnya,” atau “Di belakang nama besar seorang laki-laki terdapat seorang perempuan yang besar pula.”
Siti Walidah: Bukan Sekadar Pendamping, tetapi Rekan Seperjuangan
Di balik perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah, ada Siti Walidah, perempuan yang memahami bahwa cinta tidak harus membuat seseorang berdiri di belakang. Cinta juga bisa menjadi alasan untuk berjalan berdampingan, membawa cita-cita yang sama, dan berjuang dengan caranya sendiri.
Ketika Muhammadiyah berdiri pada 1912, Siti Walidah tidak sekadar mengambil peran sebagai istri seorang tokoh pergerakan. Ia turut menggerakkan pendidikan perempuan melalui pengajian yang melibatkan remaja, ibu-ibu, hingga buruh batik. Baginya, perempuan bukan sekadar objek yang harus dididik, melainkan manusia yang berhak memperoleh ilmu dan mengambil bagian dalam perubahan.
Ikhtiarnya kemudian tumbuh dalam gerakan Aisyiyah, yang berdiri pada 1917. Melalui gerakan ini, pendidikan menjadi jalan bagi perempuan untuk mengenali potensi dirinya, memperluas wawasan, dan ikut membangun masyarakat.
Dia bahkan berkata, “Wanita jangan berjiwa kerdil! Tetapi harus berjiwa Srikandi (bangkit melawan ketertindasan)! Apabila wanita meminta macam-macam kepada suami, itu menunjukkan bahwa ia miskin!” (Hal. 27). Siti Walidah memandang bahwa semuanya memiliki tanggung jawabnya masing-masing (hal. 42).
Siti Nafiqah, seorang perempuan tangguh di balik K.H. Hasyim Asy’ari, memakai adagium “seorang perempuan/ibu adalah madrasah pertama anaknya.” Kemudian, dalam khutbah Rasulullah saw. dalam Haji Wada, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya mereka para istri, penolong bagimu.”
Nafiqah bercita-cita bahwa anak keturunan harus menjadi seorang kiai yang negarawan, atau ulama yang umara. Dalam kitabnya Dlau al-Misbah, dijelaskan adab ke-2 dari 14 adab, adab seorang perempuan adalah mengurus segala urusan rumah tangga. Ketika urusan di rumah mampu diselesaikan oleh seorang wanita, maka fokus seorang laki-laki adalah hal yang lebih besar, yaitu mengurus bangsa dan negara. Hasil dari kehebatan Nafiqah terlihat dari amanah yang menjadi kebanggaan umat kepada cucu-cucunya, yaitu Abdul Wahid Hasyim yang pernah menjabat Ketua Masyumi dan Menteri Agama RI, serta Abdurrahman Wahid yang menjadi Ketua Umum PBNU selama beberapa periode.
Selain itu, kita juga dapat memahami bagaimana Raden Ajeng Soeharsikin dapat mendampingi guru bangsa Cokroaminoto dalam mengelola rumah Peneleh menjadi rumah pergerakan. Rumah tersebut dibeli atas inisiatif Soeharsikin agar kader bangsa dapat belajar kepada Cokroaminoto dan menjadi sosok besar di masa depan. Terbukti dengan munculnya Soekarno sang proklamator, Kartosoewirjo, dan Musso. Di sinilah kita tahu bahwa peran wanita menjadi asahan bagi perjuangan bangsa.
Joan of Arc: Perempuan Muda yang Menolak Menjadi Penonton Sejarah
Jauh sebelum dunia ramai membicarakan kesetaraan perempuan, Eropa pernah menyaksikan seorang gadis muda yang berani menantang batas zamannya. Namanya Joan of Arc, atau Jeanne d’Arc (sekitar 1412–1431), perempuan asal Prancis yang mengambil bagian dalam Perang Seratus Tahun melawan Inggris.
Bayangkan, ketika usianya baru sekitar 17 tahun, saat kebanyakan orang seusianya masih mencari arah hidup, Joan justru memberanikan diri menemui Charles VII untuk menawarkan bantuannya dalam perjuangan Prancis. Ia kemudian menjadi salah satu figur penting dalam upaya pembebasan Orléans pada 1429, membangkitkan semangat pasukan yang tengah menghadapi tekanan perang.
Apa yang membuat seorang gadis dari keluarga petani berani memasuki dunia militer dan politik yang didominasi laki-laki?
Pertama, keyakinan yang tak mudah digoyahkan. Joan meyakini dirinya menerima panggilan Tuhan melalui suara-suara yang ia kaitkan dengan para santo. Keyakinan itulah yang memberinya keberanian untuk mengambil jalan yang tidak lazim bagi perempuan pada zamannya.
Kedua, keberanian melampaui batas sosial. Joan tidak lahir dari keluarga bangsawan ataupun lingkaran kekuasaan. Namun, ia tidak menjadikan latar belakangnya sebagai alasan untuk diam. Ia berusaha meyakinkan orang-orang yang memiliki kuasa bahwa dirinya mampu mengambil bagian dalam perjuangan bangsanya.
Ketiga, kesetiaan terhadap cita-cita. Perjuangannya mendukung penobatan Charles VII sebagai raja Prancis membawanya menghadapi risiko yang besar. Setelah ditangkap, ia diadili dan dihukum mati pada 1431, ketika usianya masih sekitar 19 tahun. Namanya kemudian dikenang sebagai salah satu figur penting dalam sejarah Prancis.
Dari Joan, kita belajar bahwa sejarah tidak selalu dimulai dari istana, ruang rapat, atau tangan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Terkadang, sejarah bergerak karena seseorang berani mengetuk pintu yang sejak awal seolah tertutup baginya.
Namun, keberanian bukan berarti seseorang harus berjuang sendirian. Perubahan juga membutuhkan strategi, dukungan, kesempatan, dan keberanian masyarakat untuk membuka ruang bagi mereka yang selama ini disisihkan.
Kisah Joan of Arc semestinya membuat kita bertanya: berapa banyak perempuan hari ini yang memiliki gagasan besar, tetapi harus menguburnya karena dianggap tidak pantas memimpin? Berapa banyak potensi yang hilang hanya karena seseorang lebih dahulu dinilai dari jenis kelaminnya daripada kemampuan dan pemikirannya?
Perempuan Bukan Objek, Gagasan Mereka adalah Masa Depan Bangsa
Indonesia bukan kekurangan perempuan. Berdasarkan data administrasi kependudukan per 31 Desember 2025 yang diberitakan pada Maret 2026, jumlah penduduk perempuan mencapai 142.816.997 jiwa, sementara laki-laki berjumlah 143.644.742 jiwa. Artinya, hampir separuh penduduk negeri ini adalah perempuan. Mereka bukan kelompok kecil yang bisa diabaikan, melainkan bagian penting dari masa depan bangsa.
Namun, pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak perempuan yang hidup di negeri ini, melainkan seberapa besar ruang yang kita berikan agar mereka dapat hidup, berpikir, berkarya, dan menentukan masa depannya sendiri?
Di Kabupaten Purwakarta, laporan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak oleh Bale Titirah/P2TP2A untuk periode Januari–Mei 2026 disebut mencatat 78 kasus. Angka tersebut tentu perlu dibaca sesuai cakupan laporan dan tidak serta-merta menggambarkan seluruh kejadian yang ada. Sebab, di balik kasus yang tercatat, selalu ada kemungkinan pengalaman kekerasan yang tidak pernah sampai ke meja pelaporan.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kemajuan zaman, masih ada perempuan yang harus berjuang untuk memperoleh sesuatu yang seharusnya menjadi hak dasar setiap manusia: rasa aman, penghormatan, dan kebebasan atas dirinya sendiri.
Ironisnya, perempuan masih kerap dipersempit menjadi persoalan penampilan dan tubuh, seolah-olah nilai mereka berhenti pada apa yang terlihat oleh mata. Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar rupa: pikiran yang kritis, gagasan yang bernas, keberanian yang terukur, dan kemampuan mengubah keresahan menjadi gerakan.
Dalam regulasi formal di Indonesia, kuota keterwakilan atau peran perempuan ditetapkan minimal 30 persen, terutama di bidang politik, legislatif, dan lembaga publik. Artinya, perempuan harus mengambil peran itu untuk memperjuangkan hak-haknya.
Srikandi: Sebagai Bentuk Perlawanan dari Penindasan
Srikandi dalam kisah Mahabharata bukan sekadar tokoh pewayangan, melainkan simbol perjuangan melawan takdir dan ketidakadilan. Terlahir dari kisah Amba yang menyimpan dendam terhadap Bisma, perjalanan Srikandi mengajarkan bahwa seseorang tidak seharusnya dibatasi oleh identitas maupun keadaan yang melekat padanya. Ia hadir dalam pusaran sejarah sebagai sosok yang turut menentukan arah perjuangan, bukan sekadar menjadi penonton. Sebab, keberanian tidak ditentukan oleh siapa kita dilahirkan, melainkan oleh bagaimana kita memilih berdiri menghadapi ketidakadilan.
Secara etimologi, nama Srikandi merupakan versi Indonesia dari Śikhaṇḍin dalam bahasa Sanskerta. Bentuk femininnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti “memiliki rumbai-rumbai” atau “yang memiliki jambul”.
Dalam pewayangan Jawa yang mengadaptasi kisah Mahabharata, Dewi Srikandi merupakan putri Prabu Drupada dan Dewi Gandawati yang tumbuh dengan kecintaan terhadap dunia keprajuritan. Ia mahir memanah setelah berguru kepada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Namun, Srikandi bukan sekadar dikenal melalui ikatan perkawinannya, melainkan melalui keberanian, keterampilan, dan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan Kesatrian Madukara.
Puncak perjuangannya terjadi dalam perang Bharatayuddha ketika Srikandi tampil sebagai senapati Pandawa untuk menghadapi Bisma, panglima besar Korawa. Dengan panah Hrusangkali, ia berhasil menewaskan Bisma, sekaligus menggenapi kisah kutukan Dewi Amba. Srikandi mengajarkan bahwa perempuan bukan hanya penghuni ruang di balik layar, melainkan mampu berdiri di garis depan, memegang tanggung jawab, dan menentukan arah sejarah. Ia menjadi simbol bahwa keberanian dan kemampuan tidak semestinya dibatasi oleh jenis kelamin, tetapi dibuktikan melalui tindakan dan pengabdian.
Peran Strategis Srikandi Era Modern
Diharapkan, Srikandi masa kini adalah perempuan yang tidak kehilangan nilai-nilai juang pergerakan. Perempuan yang lantang melawan penindasan, tetapi juga berani mengambil tanggung jawab; yang tidak sekadar menuntut ruang dalam sejarah, tetapi turut menciptakan sejarah melalui gagasan, karya, dan pengabdian. Sebab, perjuangan bukan tentang siapa yang paling banyak menuntut, melainkan siapa yang bersedia mengambil peran. Perempuan dan laki-laki harus mampu berjalan berdampingan, menggerakkan peradaban, serta membangun Purwakarta sesuai cita-cita bersama. Bahkan, perjuangan yang lebih luhur bukan hanya melahirkan tokoh untuk hari ini, melainkan menciptakan ruang bagi lahirnya ilmuwan, pemikir, dan pemimpin besar untuk masa depan.
Tak ada manusia yang terlahir bodoh, namun ia terlahir dalam keadaan tidak tahu. Thomas Edison diusir pulang oleh gurunya karena dianggap bodoh, tapi sekarang dunia mengakui ilmu listriknya (Madilog, hal. 127). Pengamatan Voltaire dalam buku Psychology of Money: “Sejarah tak pernah mengulangi dirinya, manusia selalu mengulanginya.” Maka, bukan tak mungkin perempuan hari ini bisa menjadi tokoh besar, karena setiap insan pasti memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menjadi luar biasa di masa depan.
Agar cita-cita tersebut terwujud, kaderisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas, seminar, atau sekadar pergantian kepengurusan. Kaderisasi harus menjadi proses memanusiakan manusia, menumbuhkan keberanian berpikir, dan menyiapkan generasi yang sanggup melanjutkan estafet perjuangan. Di sinilah falsafah Sunda Asih, Asuh, Asah dapat menjadi fondasi pergerakan.
Asih berarti menghadirkan kasih sayang dan kedekatan. Seorang kader bukan sekadar nama dalam daftar anggota, melainkan manusia yang perlu didengar, dipahami, dan ditemani proses pertumbuhannya. Hubungan antara mentor dan kader harus dibangun dengan kepercayaan, bukan ketakutan.
Asuh berarti membimbing dan mengarahkan. Kader perlu dibekali ilmu, nilai, etika, serta pengalaman yang relevan agar tidak hanya bersemangat dalam perjuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Sebab, keberanian tanpa pengetahuan mudah kehilangan arah, sedangkan pengetahuan tanpa keberanian hanya akan menjadi wacana.
Asah berarti mempertajam kemampuan dan membuka jalan bagi kader untuk bertumbuh. Berikan mereka ruang untuk memimpin, kesempatan untuk mencoba, dan kepercayaan untuk mengambil tanggung jawab. Jangan takut melahirkan kader yang kelak melampaui mentornya, sebab keberhasilan seorang pendidik bukan diukur dari seberapa lama muridnya berada di bawah bayang-bayangnya, melainkan dari seberapa jauh muridnya mampu melangkah dengan kakinya sendiri.
Pada akhirnya, kaderisasi bukan tentang menciptakan pengikut yang pandai mengulang perkataan pemimpinnya. Kaderisasi adalah tentang melahirkan manusia yang mampu berpikir mandiri, berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Perempuan tidak cukup hanya diajak hadir dalam pergerakan; mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, memimpin, dan menentukan arah perjuangan.
Sebab, Srikandi masa kini bukan hanya perempuan yang berani mengangkat busur di medan perang, melainkan mereka yang berani mengangkat gagasan di tengah kebuntuan, menyalakan pengetahuan di tengah ketertinggalan, dan melahirkan pemimpin ketika zaman kehabisan teladan.
Dari Purwakarta, kita tidak hanya ingin mewariskan cerita tentang tokoh-tokoh besar masa lalu. Kita ingin menyiapkan generasi yang kelak menulis sejarahnya sendiri. Dan melalui Asih, Asuh, Asah, semoga perjuangan hari ini tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tumbuh menjadi peradaban.
Penulis: M. Depanca Ramdani, S.M.
Ketua Umum PB Permata












