Sebuah diskusi akademik dan kajian sering dilaksanakan oleh aktivis dan pegiat seni di Purwakarta. Mereka menyebutnya Majelis Rakyat.
Secara etimologis, majelis berasal dari bahasa Arab majālis, yang berarti tempat duduk, tempat berkumpul, rapat, atau persidangan. Sementara itu, rakyat, menurut pemikiran Aristoteles dalam sistem demokrasi, merupakan komunitas orang-orang bebas. Adapun Socrates memandang rakyat sebagai subjek yang harus dilindungi oleh penguasa. Penguasa sejatinya wajib bertindak demi kebaikan rakyat, bukan demi kepentingan pribadi, karena rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi.
Namun, dalam realitas kehidupan di negeri demokrasi ini, rakyat kerap hanya menjadi objek penghimpunan suara dalam bilik-bilik pemilihan, bukan pihak yang benar-benar dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Rakyat hanya menjadi alat bagi penguasa, bukan kekuatan yang mampu memengaruhi kebijakan penguasa. Di sinilah letak persoalannya. Demokrasi tidak akan pernah berjalan dengan baik apabila masyarakat atau rakyat tidak memiliki kapasitas untuk memilih pemimpin yang berkualitas. Hal ini disebabkan oleh ruang-ruang diskusi dan budaya membaca yang tidak menjadi prioritas, sehingga pemimpin yang dipilih berdasarkan meritokrasi dan keutamaan (aretē) tidak pernah menjadi pilihan utama.
Saya sendiri, M. Depanca Ramdani, sempat berpikir: jika semua orang hanya menyalahkan, siapa yang akan memperbaiki?
Belajar dari keteladanan Nabi Muhammad SAW, beliau membangun Yatsrib atau Madinah menjadi sebuah negeri yang madani dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun. Hal tersebut tidak terlepas dari peran institusi pendidikan dan ruang-ruang pembinaan seperti Suffah serta Darul Arqam yang menjadi tempat berlangsungnya kajian tentang kehidupan, keagamaan, hingga persoalan masyarakat dan negara. Dengan demikian, masyarakat dan pejabat dapat memahami adab, etika, keilmuan, bahkan konsep yang paling mendasar tentang mengenal kehendak dan ketetapan Tuhan.
Banyaknya intoleransi dan degradasi intelektual terjadi karena kita tidak pernah benar-benar memahami konsep sosial yang dibawa Rasulullah dalam membangun kebiasaan dan lingkungan yang baik. Salah satunya adalah memulai perubahan melalui diskusi keilmuan terhadap apa yang dibaca (iqra). Sebab, informasi yang kita miliki barangkali perlu diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan menjadi dialektika yang melahirkan inspirasi atau sintesis, sebagaimana gagasan Tan Malaka dalam Madilog.
Dalam buku Madinah Penggerak Sejarah karya Edgar Hamas, dikisahkan tentang dua belas pemuda dari Yatsrib yang datang menemui Rasulullah SAW di Makkah untuk membebaskan masyarakat mereka dari belenggu kebodohan. Ketika para orang tua dan elite sibuk memikirkan kekuasaan serta siapa yang berhak berkuasa, mereka justru melupakan problematika lingkungan dan generasi muda yang menginginkan perubahan.
Setelah kembali ke Yatsrib, kedua belas pemuda tersebut turut mengubah tatanan sosial bersama Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat senior yang mengalami kebutaan. Hal inilah yang harus kita maknai sebagai inspirasi untuk mengubah Purwakarta menjadi kota yang hidup dengan diskusi dan diisi oleh para pemantik yang memiliki kapasitas akademis.
Sebagaimana gagasan Imam Al-Ghazali yang dibahas dalam buku Filsafat Kebahagiaan karya Fahrudin Faiz, negara dapat diibaratkan sebagai tubuh yang memiliki kepala sebagai akal, hati sebagai intuisi moral, serta perut atau bagian bawah tubuh sebagai fondasi fisik. Semuanya saling berhubungan. Ketika salah satunya mengalami gangguan, tubuh pun akan merasakan sakit. Begitu pula negara.
Maka, perlu disadari bahwa rakyat dan pejabat harus sehat secara jasmani maupun rohani agar kehidupan bernegara tidak kacau balau. Dalam salah satu penafsiran etimologis yang dikenal di masyarakat, agama kerap dikaitkan dengan makna a-gama, yakni tidak kacau. Jika kita mengaku sebagai umat beragama, tetapi justru menjadi penyebab kekacauan, maka perlu dipertanyakan: sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan agama?
Beberapa kali diskusi Majelis Rakyat diselenggarakan di Purwakarta, mulai dari pembahasan tentang cerita Purwakarta yang berangkat dari opini pada volume pertama hingga kajian data desa presisi yang dibawakan oleh Bang Widdy pada volume ketujuh. Para ketua umum organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung juga turut menjadi pemantik diskusi Majelis Rakyat.
Namun, meskipun telah beberapa kali dilaksanakan, sangat disayangkan bahwa diskusi ini belum diikuti secara konsisten oleh mahasiswa dan mahasiswi. Mungkin kegiatan semacam ini sudah tidak relevan dengan standar yang dibentuk oleh aplikasi media sosial mereka, atau barangkali terdapat egoisme ideologis dalam diri masing-masing.
Padahal, ruang diskusi ini justru diisi oleh Kang Farid, seorang pendiri Nyimpang.com yang konsisten menulis dan dahulu menggalakkan perpustakaan jalanan; kawan-kawan Philosophia yang mengkaji filsafat; serta rekan-rekan Intiporia dan KOPEL yang sebagian anggotanya telah bekerja atau menyelesaikan pendidikan. Ada pula Tum Agit dari Green Action dan berbagai elemen lainnya.
Padahal, mahasiswa telah lama menyandang predikat sebagai agent of change. Akan tetapi, ruang diskusi semacam ini belum diikuti secara konsisten, bahkan belum digalakkan kembali di kampus masing-masing. Bayangkan jika tradisi tersebut tumbuh dan berkembang. Bukan tidak mungkin, semangat perubahan seperti Revolusi Prancis dapat hadir di Purwakarta, dimulai dari ruang-ruang sederhana seperti kafe, tanpa pertumpahan darah, melalui masyarakat yang sadar akan perubahan yang perlu dilakukan.
Hal ini sejatinya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam upaya merebut kembali Makkah, dakwah atau seruan yang disampaikan dengan kelembutan menjadi jalan yang lebih bermakna daripada senjata dan cacian yang dilontarkan kepada pihak yang berseberangan.
Bagi saya, Purwakarta telah melekat dengan identitas sebagai Kota Santri. Oleh karena itu, kita tidak memiliki alasan untuk mengabaikan prinsip-prinsip sunah dalam menggerakkan diskusi akademis serta berfokus pada seruan yang menawarkan solusi.
Bahkan, hal ini telah diajarkan dalam buku Sirah Nabawiyah karya Muhammad Husain Haekal yang pernah saya baca, serta dalam buku Manhaj Haraki karya Muhammad Al-Ghadban yang membahas bagaimana gerakan politik dijalankan oleh Rasulullah SAW.
Kita kerap lupa untuk kembali memperhatikan rakyat dan justru terlalu berfokus pada bagaimana cara memperoleh kekuasaan. Andaikan orientasi Rasulullah SAW semata-mata adalah kekuasaan, mungkin sebelum hijrah beliau akan lebih memilih tawaran Abu Sufyan untuk berkuasa. Namun, tugas Rasulullah bukanlah sekadar meraih kekuasaan, melainkan mengubah masyarakat menjadi insan yang sadar dan memperoleh rida Allah SWT.
Maka, sebelum menjadi umara, alangkah baiknya jika kita belajar terlebih dahulu bagaimana menjadi ulama yang radikal dalam arti terdidik, berpikir kritis, dan berakal.
Persoalan kita bukan semata-mata apakah negara akan menjadi demokratis, komunis, Islami, atau nasionalis. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memperbaiki masalah sosial yang semakin sulit diatasi. Bahkan, persoalan umat Islam hari ini tidak hanya berada pada ranah teologis atau ketuhanan, tetapi juga pada hubungan antarmanusia yang belum berjalan dengan baik.
Makna revolusi membutuhkan persatuan dalam perubahan. Kita dapat melihat bagaimana Mao Zedong merangkul berbagai entitas untuk menjadikan paham kiri sebagai bagian dari perlawanan. Demikian pula Rasulullah SAW yang menyatukan suku Aus dan Khazraj serta komunitas keagamaan lainnya untuk memperbaiki tatanan sosial dan membangun kehidupan bersama di Madinah.
Dengan demikian, berbagai persoalan yang kita hadapi tidak seharusnya dibiarkan berkembang tanpa arah penyelesaian.
Berbagai bentuk penyelewengan dan persoalan sosial, mulai dari kebakaran hutan, tingginya angka kriminalitas, intoleransi, hingga degradasi moral generasi muda, dapat berkaitan dengan tatanan sosial yang bermasalah. Kondisi tersebut menyerupai lingkaran setan yang seolah tidak bertepi. Kita pun belum sepenuhnya mampu membangun kehidupan masyarakat sesuai dengan cita-cita pembangunan di Purwakarta.
Oleh karena itu, saya ingin mengajak seluruh unsur masyarakat untuk mendukung perubahan, dimulai dari langkah paling sederhana, yaitu bertemu, menjalin silaturahmi, dan berdiskusi di ruang-ruang yang kini mulai jarang dikunjungi.
Semoga kopi yang kita nikmati bersama selalu menjadi sumber inspirasi, bahkan melahirkan revolusi yang tidak sekadar menjadi kata-kata. Sebab, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Penulis: M. Depanca Ramdani, S.M.
Ketua Umum PB Permata












