Site icon Madilognews.com

Menu MBG di Purwakarta Disorot: Minim Variasi, Tinggi GGL, Berpotensi Picu “Tsunami Penyakit”

IMG 20251208 WA0090

PurwakartaMadilognews.com – Polemik kualitas menu Makan Bergizi (MBG) di Purwakarta kembali mencuat setelah beredar foto paket konsumsi anak sekolah yang berisi pisang, satu butir telur, sebungkus malkist, dan susu kemasan 110 ml. Menu ini dipertanyakan kesesuaiannya dengan standar gizi seimbang karena masih mengandalkan biskuit dan susu kemasan yang termasuk ultra processed food (UPF). Itu kategori pangan olahan yang menurut Badan Gizi Nasional (BGN) tidak dianjurkan untuk konsumsi harian anak karena cenderung tinggi gula, garam, dan lemak (GGL).

Farah Huriyyah Permata Arafah, Pengamat Kesehatan Masyarakat dari Lembaga Kajian Kebijakan Publik Analitika Purwakarta, menilai bahwa menu seperti ini belum merepresentasikan prinsip gizi yang ideal untuk anak sekolah. Menurutnya, program MBG tidak cukup hanya memastikan anak mendapat makanan, tetapi memastikan kualitas nutrisinya baik serta aman untuk kesehatan jangka panjang.

Baca juga: Ahli Gizi SPPG 5 Cisereuh Mundur, Ungkap Dugaan Pelanggaran Keamanan Pangan dan Maladministrasi

“Jika anak-anak setiap hari diberi snack olahan tinggi GGL dan berlangsung bertahun-tahun, itu sama saja kita menyiapkan bom waktu kesehatan. Program makan bergizi seharusnya mencegah penyakit, bukan memupuk risikonya,” ujar Farah.

Ia menekankan bahwa ketergantungan pada UPF dipicu karena penyedia menu sering memilih opsi praktis. Padahal Indonesia memiliki banyak pilihan pangan lokal bernutrisi tinggi yang tidak kalah murah, seperti ubi, singkong, jagung, talas, kacang-kacangan, lauk segar, buah musiman, hingga aneka olahan telur dan sayur.

“Penggantinya itu banyak. Masalahnya sering kali penyedia SPPG memilih yang praktis agar tidak repot. Bayangkan empat tahun pola makan anak monoton seperti ini kita bisa menyambut penyakit-penyakit baru,” tegasnya.

Farah juga merujuk pada peringatan sejumlah akademisi dan dokter, termasuk Dr. Tan, mengenai potensi “tsunami penyakit” di masa mendatang akibat konsumsi rutin produk tinggi GGL, terutama dari ultra processed food. Risiko obesitas, diabetes dini, hipertensi, hingga gangguan metabolik disebut dapat muncul jika pola makan tidak diperbaiki sejak dini.

Ia menegaskan bahwa evaluasi menu MBG di Purwakarta sangat mendesak. Program ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tetapi investasi kesehatan generasi selanjutnya.

Baca juga: Ahli Gizi Mundur, SPPG 5 Cisereuh Harus Ditutup

“Ini bukan soal kenyang hari ini, tapi kesehatan mereka 10–20 tahun ke depan. Jika ingin benar-benar memutus stunting, variasi pangan segar dan minim UPF harus diprioritaskan,” pungkas Farah.

Kini publik menunggu komitmen pemerintah daerah, pihak sekolah, dan SPPG untuk memperbaiki komposisi MBG menjadi lebih bergizi, lebih variatif, dan berpihak pada masa depan anak Purwakarta.

Exit mobile version