Purwakarta – Madilognews.com – Fenomena politisi yang mudah berpindah partai kembali menuai sorotan. Kader Partai Demokrat Purwakarta, Risky Widya Tama alias Cau, melontarkan kritik keras terhadap politisi yang menggunakan kebebasan demokrasi sebagai alasan untuk manuver politik yang tidak bermoral.
“Jubir DPW PSI ngawur. Kebebasan dalam demokrasi bukan tanpa nilai-nilai dan komitmen,” tegas Risky, Jumat (4/4), menanggapi pernyataan yang membenarkan sikap pindah partai seenaknya.
Risky menilai, demokrasi bukan tempat bermain bagi para petualang politik. Reformasi lahir untuk memperjuangkan nilai, bukan sekadar meruntuhkan rezim. Namun kini, justru banyak politisi yang menjual komitmen demi tawaran politik yang lebih menggiurkan.
Baca juga: Abang Ijo Hapidin Pindah Partai Empat Kali, Pengamat Sebut Partai Dikiranya Kos-Kosan
“Kalau berpindah partai berulang kali dalam waktu singkat, itu bukan ekspresi kebebasan. Itu ekspresi oportunisme politik,” ujarnya.
Yang lebih disayangkan, kata Risky, banyak dari mereka berdalih demi rakyat, padahal justru mengkhianati partai yang dulu mendukungnya.
“Ngakunya demi kesejahteraan rakyat. Tapi partai pengusungnya saja di Pilkada dikhianati. Apalagi rakyat?” sindirnya tajam.
Baca juga: Politik Tanpa Arah: Ketika Komitmen Terkikis Oleh Kepentingan
Politisi Oportunis, Demokrasi Tercederai
Menurut Risky, gejala oportunisme politik ini menjadi ancaman serius bagi kualitas demokrasi lokal. Ketika loyalitas digadaikan demi posisi atau kepentingan sesaat, yang dikorbankan adalah kepercayaan publik.
“Rakyat tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana yang berjuang dan mana yang cari aman,” tambahnya.
Partai politik, kata dia, harus lebih selektif dan tegas dalam menanggapi kader-kader loncat pagar. Bukan hanya untuk menjaga marwah organisasi, tetapi juga untuk melindungi integritas demokrasi itu sendiri.

