Site icon Madilognews.com

Ngaji Gagasan PKB Purwakarta Kupas Sosialisme Islam dan Ketimpangan Ekonomi

IMG 20261107 WA0052

Purwakarta – Madilognews.com – DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Purwakarta menggelar forum diskusi Ngaji Gagasan bertajuk “Sosialisme Islam H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati: Relevansinya terhadap Ketimpangan Ekonomi dan Keadilan Sosial di Purwakarta”, Jumat (6/11/2026) malam, di Sekretariat DPC PKB Purwakarta.

Forum terbuka untuk umum ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Ramlan Maulana, Saparudin, S.Fil.I., M.M.Pd., dan Widdy Apriadi, M.Si. Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus DPC PKB Purwakarta, anggota legislatif Hilmi Sirojul Fuadi, Ceceng Abdul Qodir, dan Alaikassalam, serta sejumlah aktivis senior dan muda dari berbagai kalangan.

Baca juga: APBD Purwakarta 2027 Disorot, Kewajaran Belanja dan Kualitas Perencanaan Dipertanyakan

Diskusi menjadi ruang pertukaran gagasan untuk menghubungkan pemikiran sosialisme Islam dengan realitas ketimpangan ekonomi dan keadilan sosial di Purwakarta.

Ketua DPC PKB Purwakarta menyampaikan bahwa Ngaji Gagasan merupakan bagian dari upaya membangun tradisi intelektual dan ruang dialog kritis di tengah masyarakat.

“Acara ini merupakan ikhtiar PKB Purwakarta untuk menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membahas teori dan pemikiran, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Kami ingin membangun tradisi berpikir kritis, memperluas wawasan, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan yang relevan dengan tantangan sosial dan pembangunan Purwakarta,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Ramlan Maulana menguraikan sosialisme sebagai ideologi dalam spektrum pemikiran politik, termasuk komunisme yang mengusung cita-cita masyarakat tanpa kelas melalui revolusi. Ia menjelaskan materialisme historis Karl Marx, yang memandang perkembangan sejarah masyarakat berkaitan erat dengan kondisi material dan sistem ekonomi.

Menurutnya, konsentrasi modal dalam kapitalisme dapat melahirkan ketimpangan dan relasi penindasan antara kelas borjuis dan proletariat. Perubahan sosial, dalam kondisi tersebut, dapat muncul dari kelompok yang mengalami ketidakadilan.

Ramlan kemudian mengaitkan gagasan tersebut dengan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto tentang sosialisme Islam. Islam memiliki nilai-nilai sosial yang berlandaskan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Saparudin mengulas pemikiran Ali Syari’ati melalui perspektif teologi pembebasan yang menekankan kesatuan Tuhan, alam, dan manusia. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memahami sekaligus mengubah realitas sosial.

Saparudin mengangkat kisah Qabil dan Habil sebagai simbol kontradiksi sejarah antara kelompok yang menguasai dan kelompok yang tertindas. Menurutnya, Ali Syari’ati dipengaruhi Karl Marx dalam memandang sejarah sebagai arena kontradiksi, tetapi sumber pertentangan tidak semata-mata bersifat ekonomi, melainkan juga berkaitan dengan nilai moral.

Ia turut menyampaikan analogi, “Ikan bisa ke mana saja, tetapi tidak bisa keluar dari sungai,” sebagai refleksi tentang keterbatasan manusia dalam memahami realitas yang melingkupinya.

Narasumber ketiga, Widdy Apriadi, M.Si., menghadirkan analisis empiris melalui paparan “Membaca Rezim Purwakarta: Pertumbuhan & Ketimpangan.” Ia membedah tren pertumbuhan ekonomi dan rasio Gini Kabupaten Purwakarta sepanjang 2009–2025, termasuk dinamika pertumbuhan ekonomi pada periode kepemimpinan Dedi Mulyadi dan Anne Ratna Mustika.

Melalui pembacaan data ekonomi makro, Widdy mengajak peserta melihat pembangunan tidak hanya dari capaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari aspek pemerataan kesejahteraan. Ia mengangkat pertanyaan reflektif, “Apa maknanya pertumbuhan impresif tanpa pemerataan yang sama impresifnya?”

Baca juga: Paripurna RAPBD 2027, PKB Soroti Dukungan Pesantren dan Dampak Investasi Data Center A

Pertanyaan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis mencerminkan distribusi kesejahteraan yang merata. Karena itu, ketimpangan menjadi aspek penting dalam menilai keberhasilan pembangunan daerah.

Ketiga pemaparan tersebut menghadirkan perspektif yang saling melengkapi. Ramlan membahas fondasi ideologis sosialisme Islam, Saparudin menguraikan dimensi teologi pembebasan dan moralitas, sedangkan Widdy menghubungkannya dengan data pertumbuhan dan ketimpangan ekonomi Purwakarta.

Baca juga: Paripurna DPRD Purwakarta, Fraksi PKB: Pajak Dibayar Rakyat, Manfaatnya Harus Langsung Terasa

Melalui forum Ngaji Gagasan, DPC PKB Purwakarta berupaya menghadirkan ruang intelektual yang kritis dan dialogis untuk membaca persoalan sosial secara lebih mendalam. Kegiatan ini diharapkan mendorong kesadaran bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pemerataan, persamaan, dan keadilan sosial.

Mengusung semangat “Mengaji Pemikiran, Membaca Zaman, Merumuskan Perubahan”, forum ini menjadi ruang refleksi untuk menghubungkan gagasan dengan realitas serta merumuskan perspektif perubahan sosial yang berkeadilan bagi masyarakat Purwakarta.

Exit mobile version