Makam Dalem Santri Diusulkan Jadi Destinasi Wisata Religi Purwakarta

IMG 20261027 WA0004

Purwakarta – Madilognews.com- Makam Dalem Santri di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, diusulkan menjadi destinasi wisata religi. Gagasan tersebut disampaikan Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin, saat kegiatan ziarah dan napak tilas bersama keluarga keturunan Dalem Santri dan komunitas BELA PURWAKARTA, Senin (26/10/2026).

Endin mengatakan, makam tersebut kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, seperti Karawang, Bogor, Bandung, hingga Lamongan, Jawa Timur. Potensi itu dinilai dapat dikembangkan melalui paket perjalanan wisata religi yang menghubungkan makam Dalem Santri dengan makam Syekh Baing Yusuf dan Mama Sempur di Plered.

Baca juga: Aceng Calon Anggota BPD Desa Wanasari, Usung Transparansi, Ketegasan, dan Integritas

“Bisa saja ke depannya tercipta perpaduan paket perjalanan wisata religi: Dalem Santri, Syekh Baing Yusuf, dan Mama Sempur Plered,” ujar Endin.

Rencana pengembangan tersebut turut mendapat perhatian Raden Boyke Pranata Soerianata, generasi ketujuh Dalem Santri. Boyke baru kembali dari Amerika Serikat setelah hampir 30 tahun berkarier di negara tersebut dan menyempatkan diri berziarah ke makam leluhurnya.

Dalam kesempatan itu, Boyke juga berencana menggelar haul Dalem Santri di Wanayasa. Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut sebagai upaya melestarikan sejarah Purwakarta.

Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, Vera Novia, menilai pengembangan makam dapat menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus mendorong perekonomian masyarakat setempat.

“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini penting untuk menggali potensi wisata religi,” ujar Vera.

Baca juga: Vera Novia Temui Kapolres Purwakarta, Bahas Pencegahan Perundungan

Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata merupakan Bupati Karawang periode 1820–1827. Pada 1821, ia memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang dari Bunut Kertajaya ke Wanayasa. Adiknya, Dalem Sholawat, kemudian memindahkan ibu kota ke Sindang Kasih pada 1830. Nama Purwakarta dikukuhkan pada 20 Juli 1831.

Pengembangan makam sebagai destinasi wisata religi memerlukan kolaborasi pemerintah, keluarga keturunan, dan masyarakat. Penataan kawasan, pelestarian situs sejarah, serta penyediaan fasilitas bagi peziarah diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *