Milad HMI ke-79: Perayaan yang Menuntut Pertanggungjawaban Sejarah

image editor output image1905283646 1770296693848

Setiap 5 Februari, HMI kembali dirayakan. Spanduk dikibarkan, pidato dilantunkan, dan sejarah diulang dengan nada heroik. Namun Milad ke-79 HMI pada 5 Februari 2026 semestinya bukan sekadar perayaan usia, melainkan sebuah sidang batin: sejauh mana HMI masih setia pada alasan keberadaannya. Organisasi yang lahir dari kegelisahan tidak pantas merayakan ulang tahun tanpa kejujuran reflektif.

NDP di Usia 79: Dari Manifesto Perlawanan ke Teks Seremonial

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dirumuskan sebagai fondasi epistemik sekaligus etik, alat membaca realitas, bukan sekadar dekorasi pidato. Namun di usia 79, NDP lebih sering terdengar dalam seremoni Milad ketimbang tercermin dalam sikap politik kader.

Ia dihafal, tetapi jarang mengganggu kenyamanan. Ia dikutip, tetapi jarang menimbulkan risiko. Di titik ini, NDP mengalami apa yang oleh Mohammed Arkoun disebut sebagai pembekuan makna: nilai yang hidup direduksi menjadi teks yang aman bagi status quo.

Gramsci dan Krisis Intelektual Organik

Antonio Gramsci mengingatkan bahwa organisasi kader hanya bermakna sejauh mampu melahirkan intelektual organik, mereka yang berpihak pada yang tertindas dan berani menantang hegemoni. Namun Milad ke-79 justru dirayakan di tengah kelangkaan kader yang bersedia hidup dalam ketidaknyamanan.

Banyak yang cerdas, tetapi sedikit yang berani. Banyak yang vokal, tetapi sedikit yang konsisten. Alih-alih mengganggu hegemoni, sebagian kader memilih beradaptasi secara elegan. Kritik dilunakkan, posisi dinegosiasikan. Intelektualisme berubah menjadi keterampilan bertahan hidup, bukan lagi senjata pembebasan.

Bourdieu: Milad sebagai Pameran Modal Simbolik

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, perayaan Milad HMI kerap menjadi arena pertunjukan modal simbolik. Atribut kader, jejaring alumni, dan nostalgia perjuangan dipertontonkan bukan untuk dipertaruhkan, melainkan untuk dipamerkan.

Identitas HMI kemudian berfungsi sebagai mata uang sosial yang memperlancar akses dan membuka pintu kekuasaan. Jarang ada yang bersedia mempertaruhkan modal itu untuk menentang ketidakadilan yang nyata. Modal simbolik terus menumpuk, tetapi keberanian perlahan menipis.

Arkoun: Islam yang Aman, Bukan Islam yang Membebaskan

Arkoun juga mengkritik Islam yang dibekukan, agama yang dirawat hanya sejauh tidak mengganggu tatanan. Dalam banyak perayaan Milad, Islam tampil rapi, sopan, dan aman, tetapi jarang hadir sebagai kekuatan kritik historis.

Kesalehan lebih sering menjadi simbol daripada praksis pembebasan. Spirit keislaman hadir dalam doa penutup, tetapi absen dalam sikap terhadap ketimpangan struktural.

Milad sebagai Titik Uji, Bukan Titik Nyaman

Milad ke-79 seharusnya menjadi titik uji raison d’être HMI. Apakah HMI masih mencetak insan cita, atau sekadar menyiapkan kader yang pandai menyesuaikan diri? Apakah HMI tetap menjadi rumah intelektual, atau telah berubah menjadi ruang tunggu menuju kekuasaan?

Jika Milad hanya diisi pujian diri dan foto bersama, maka usia hanyalah angka. Organisasi yang hidup dari nostalgia sesungguhnya sedang berhenti bertumbuh.

Penutup

Pada 5 Februari 2026, HMI bukan sekadar bertambah tua. HMI sedang diminta memilih: tetap menjadi gerakan kesadaran yang gelisah, atau berubah menjadi monumen yang sopan, sunyi, dan tak lagi ditakuti oleh ketidakadilan.

Sebab raison d’être sejati tidak pernah dirayakan. Ia dipertanggungjawabkan.

Penulis: Indra Kurniawan, Kabid KPP HMI Cabang Padang Sidempuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *