Jalan Purwakarta Cepat Rusak, Kualitas Pengerjaan dan Kebijakan Preservasi Jadi Sorotan

WhatsApp Image 2026 10 29 at 11.04.33 1

Purwakarta — Madilognews.com — Panjang jalan rusak berat di Kabupaten Purwakarta melonjak 175,6 persen pada 2024, dari 54,55 kilometer pada 2023 menjadi 150,34 kilometer. Pada periode yang sama, panjang jalan berkondisi baik menyusut 122,28 kilometer atau turun 28,5 persen, dari 429,27 kilometer menjadi 306,99 kilometer.

Temuan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purwakarta tersebut menjadi dasar kajian Lembaga Kebijakan Publik Analitika Purwakarta. Kajian yang dipimpin Direktur Agus Sanusi, M.Psi., menyoroti ketahanan jalan, kualitas pengerjaan, dan efektivitas pemeliharaan sebagai aspek penting dalam evaluasi infrastruktur daerah.

Baca juga: 40 Ribu Pengangguran, Perluasan Kerja Hanya Sasar 16 Orang: Prioritas APBD Purwakarta 2027 Dipertanyakan

Pada 2025, panjang jalan rusak berat memang turun menjadi 115,79 kilometer. Jalan berkondisi baik juga meningkat menjadi 376,38 kilometer. Namun, panjang jalan rusak berat masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan pada 2023.

Data BPS juga mencatat jalan berkondisi sedang sepanjang 257,42 kilometer dan rusak ringan sepanjang 26,80 kilometer pada 2025. Jika digabungkan dengan jalan rusak berat, total panjang jalan yang belum berkondisi baik mencapai 399,99 kilometer atau 51,52 persen dari total 776,39 kilometer jalan yang tercatat. Artinya, jalan berkondisi baik baru mencakup 48,48 persen.

Kerusakan Jalan Menunjukkan Perubahan Signifikan

Data historis lima tahun menunjukkan kondisi jalan yang berubah cukup tajam. Panjang jalan berkondisi baik tercatat 501,24 kilometer pada 2021, naik menjadi 569,26 kilometer pada 2022, lalu turun menjadi 429,27 kilometer pada 2023 dan 306,99 kilometer pada 2024. Pada 2025, angka tersebut kembali naik menjadi 376,38 kilometer.

Sementara itu, jalan rusak berat tercatat 68,30 kilometer pada 2021, meningkat menjadi 70,32 kilometer pada 2022, kemudian turun menjadi 54,55 kilometer pada 2023. Angkanya melonjak menjadi 150,34 kilometer pada 2024 sebelum turun menjadi 115,79 kilometer pada 2025.

Perubahan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan jalan mempertahankan kondisi baik setelah dibangun atau diperbaiki. Evaluasi infrastruktur tidak cukup hanya melihat panjang jalan yang selesai dikerjakan, tetapi juga perlu menilai ketahanan hasil pekerjaan dan upaya mencegah kerusakan berulang.

Perbandingan antar tahun perlu memperhatikan catatan BPS bahwa pada 2024 terjadi pemutakhiran inventarisasi dan status jalan. Total panjang jalan berubah dari 728,92 kilometer menjadi 776,39 kilometer, bertambah sekitar 47,46 kilometer. Karena itu, perubahan angka agregat tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh kerusakan terjadi pada ruas yang sama.

Kualitas Pengerjaan dan Pemeliharaan Perlu Dievaluasi

Kajian Analitika Purwakarta menempatkan lonjakan kerusakan berat sebagai catatan penting untuk mengevaluasi kualitas pengerjaan dan ketahanan jalan. Jalan yang selesai dibangun atau diperbaiki diharapkan tidak hanya terlihat baik pada awal penggunaan, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kerusakan jalan dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kualitas material dan pengerjaan, kondisi tanah dasar, sistem drainase, beban kendaraan, serta pemeliharaan. Namun, data BPS tidak menjelaskan penyebab teknis kerusakan pada setiap ruas jalan. Pemeriksaan lapangan dan evaluasi teknis diperlukan untuk memastikan faktor yang paling berpengaruh.

Data jenis permukaan jalan juga menunjukkan perubahan. Panjang jalan beraspal tercatat 498,29 kilometer pada 2023, meningkat menjadi 513,50 kilometer pada 2024, kemudian sedikit turun menjadi 513,08 kilometer pada 2025. Sementara itu, kategori jalan beton dan jenis permukaan lainnya meningkat dari 174,08 kilometer pada 2023 menjadi 209,16 kilometer pada 2024 dan 217,23 kilometer pada 2025.

Perubahan jenis permukaan tersebut tidak otomatis menunjukkan tingkat ketahanan jalan. Kualitas konstruksi, kondisi lapangan, kemampuan menahan beban, dan pemeliharaan tetap perlu diperhitungkan dalam menilai daya tahan infrastruktur.

Preservasi untuk Mencegah Kerusakan Berulang

Dalam kajiannya, Lembaga Kebijakan Publik Analitika Purwakarta menekankan pentingnya menempatkan ketahanan jalan sebagai salah satu ukuran keberhasilan pembangunan infrastruktur. Penilaian tidak cukup berhenti pada panjang jalan yang dibangun atau diperbaiki, tetapi juga perlu mempertimbangkan berapa lama jalan dapat bertahan dalam kondisi baik.

Baca juga:17.178 Pencari Kerja Terdaftar, 2.442 Ditempatkan: Efektifkah Kebijakan Ketenagakerjaan Purwakarta?

Analitika Purwakarta menyoroti perlunya evaluasi pola penanganan jalan agar tidak hanya berfokus pada perbaikan setelah kerusakan terjadi, tetapi juga memperkuat preservasi atau pemeliharaan untuk menjaga kondisi jalan. Pemantauan berkala, penanganan kerusakan sejak dini, pengawasan mutu konstruksi, serta perhatian terhadap drainase perlu menjadi bagian dari upaya tersebut.

Lonjakan jalan rusak berat pada 2024 merupakan temuan utama yang patut mendapat perhatian. Perbaikan pada 2025 menjadi perkembangan positif, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan jalan yang telah dibangun maupun diperbaiki dapat bertahan lebih lama dan tidak berulang kali mengalami kerusakan.

Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purwakarta, tabel Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan dan publikasi Kabupaten Purwakarta Dalam Angka 2021–2026.

Kajian: Lembaga Kebijakan Publik Analitika Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *